Category Archives: Sosiologi
Interaksionisme Simbolik dalam Cultural Studies
Interaksionis simbolis George Hebert Mead (1962) menekankan pada bahasa yang merupakan sistem simbol dan kata-kata merupakan simbol karena digunakan untuk memaknai berbagai hal. Bahwa bahasa merupakan sistem simbol dan kata-kata merupakan simbol karena digunakan untuk memaknai berbagai hal. Dengan kata lain, simbol merupakan representasi dari pesan yang dikomunikasikan kepada publik. Sebagai misal, telepon genggam tidak hanya sekadar bermakna alat untuk berkomunikasi, melainkan sudah menjadi representasi dari gaya hidup bahka status sosial tertentu.
Menurut Mead, makna tidak tumbuh dari proses mental soliter namun merupakan hasil dari interaksi sosial atau signifikansi kausal interaksi sosial. Individu secara mental tidak hanya menciptakan makna dan simbol semata, melainkan juga ada proses pembelajaran atas makna dan simbol tersebut selama berlangsungnya interaksi sosial.
Globalisasi; Pisau Bermata Dua


Globalisasi adalah term lama yang telah dilontarkan. Dalam term tersebut batas-batas geografis dan demografis menjadi fana; pendidikan, ekonomi, hingga ilmu pengetahuan akan semakin terbuka. Siapapun dan dimanapun keberadaannya dengan paspor globalisasi dia akan bisa melakukan transaksi bisnis di negara yang mungkin tidak pernah dikunjungi sekalipun.
Globalisasi adalah suatu kemutlakan. Proses globalisasi seimbang dengan kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia. Sebab, selalu terdapat upaya manusia untuk mendekatkan diri antara satu sama lain atau dengan komunitas lainnya untuk mencari titik persamaan; yang menurut priramida kebutuhan Maslow adalah hakekat pencarian jati dirinya.
Foucault’s Power/Knowledge
Kekusaan-Pengetahuan, Foucault menuliskan dalam karya-karyanya dengan Power/Knowledge, berada dalam relasi yang saling melengkapi ibarat dua sisi mata uang. Jika membahas tentang kekuasaan, maka pada saat itu pula ada entitas pengetahuan yang mengikutinya. Juga, ketika pengetahuan itu terus-menerus di dalami, maka secara langsung maupun tidak akan menimbulkan efek kekuasaan. Sebagaimana misalnya dokter di masa hidup Foucault memiliki kekuasaan yang sangat kuat karena ia dianggap memiliki pengetahuan untuk menyembuhkan pasien; bahkan sang pasien seperti menurut saja ketika ia diberikan racun tikus oleh sang dokter untuk ‘menyembuhkan’ sakit perut yang dideritanya (Lydia, 2001:65).
Akan tetapi kekuasaan yang dimaksud dalam padangan Foucault bukanlah kekuasaan dalam pengertian konvensional yang selama ini dipahami. Kekuasaan bukanlah kemampuan untuk memengaruhi seseorang atau sekelompok orang untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh mereka yang memegang kekuasaan tersebut; biasanya kekuasaan menjadi hak yang terinstitusi dalam lembaga-lembaga seperti pemerintahan atau perusahaan.
Mengenal Michel Foucault
Paul-Michel Foucault merupakan anak kedua dari pasangan Paul-Anne yang lahir di Perancis tepatnya di Kota Pointiers pada 15 Oktober 1926 dari keluarga yang memiliki sejarah keluarga yang berasal dari keluarga ahli bedah (Lydia Alix, Foucault untuk Pemula, 2001:1-25). Ayah Foucault, yakni Paul Foucault, tidak hanya merupakan seorang dokter ahli bedah semata, melainkan guru besar dalam bidang anatomi di sebuah perguruan tinggi ternama di Perancis. Ibu Foucault yang beranama Anne Malapert juga berasal dari keluarga yang berprofesi sebagai ahli bedah. Bahkan kakek Foucault yang berasal dari Fontaineblu juga merupakan ahli bedah. Inilah alasan sederhana mengapa kedua orangtuanya mendorongan Foucault untuk juga menjadi ahli bedah seperti mereka.








