Category Archives: Media Studies
Dibalik Isi Media
Dalam mengkonstruksi realitas pada kenyataannya media tidak sekadar merepresentasikan realitas, tapi sekaligus juga memproduksinya. Peristiwa politik yang disampaikan kepada publik adalah peristiwa politik yang sudah dikonstruk oleh media. Sehingga media tidak menampilkan kenyataan apa adanya dari realitas suatu peristiwa politik yang sesungguhnya terjadi di lapangan.
Ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor yang mempengaruhi media. Media dalam memandang suatu realitas politik tentu memasukkan unsur subjektifitasnya -terutama di kalangan wartawan- dalam melakukan framing terhadap peristiwa politik dengan menonjolkan fakta-fakta yang dianggap penting dan menyamarkan apa-apa yang tidak penting. Penentuan penting tidaknya ini jelas menunjukkan bahwa operasional media sangat terbuka kemungkinan dari unsur objektifitas wartawannya, dan dalam tingkatan institusi sangat dipengaruhi oleh faktor ideologi dan arah politik pemilik media.
Self Commodity Warga dalam Citizen Journalism

Pemanfaatan ruang citizen journalism tidak hanya dilakukan oleh perusahaan media semata, melainkan juga dilakukan oleh warga; bahwa komodifikasi warga terhadap media citizen journalism pada dasarnya terfokus pada komodifikasi diri atau self-commodity. Di media citizen journalism, wargalah yang menentukan, mengkonstruksi, bahkan memiliki maksud tertentu ketika memublikasikan konten. Media citizen journalism yang ada internet pelaku bisa sekaligus bertranformasi menjadi sumber berita sekaligus. Artinya, publikasi konten berita dalam media citizen journalism terkait dengan segala sesuatu, peristiwa, atau bahkan pikiran cum perasaan si pemilik akun itu sendiri.
Fenomena ini sebagaimana dijelaskan oleh W. Loosen bahwa internet merupakan medium yang membuka peluang bagi siapa saja untuk memublikasikan hal-hal pribadi ke ranah publik, seperti menyebarkan foto aktivitas si pemilik akun.
…privacy concerns were not raised for the first time when the Internet allowed private persons to distribute photographs and information about themselves (and others), or with the (scientific and societal) discourse of online privacy. However, private information distributed via social media does make a difference, because the creators of such information may regard it as (semi-)private, whereas journalists may regard it as public. (Whittle S dan Cooper, 2009:2 dalam Trepte and Leonard (eds.), 2011: 205-218)
Karakteristik Media Baru: Interactivity
Interactivity merupakan konsep yang sering digunakan untuk membedakan antara media baru yang digital dengan media lama yang menggunakan analog. Pembahasan ini telah dijelaskan dalam sub-bab “Teknologi determinisme dan Perkembangan Media Baru” terdahulu, namun Gane dan Beer (2008) mengajukan pembahasan tentang ini dengan perspektif teori sosial sebagaimana yang dikembangkan oleh Stephen Graham (2004), Lev Manovich (2001) dan Spiro Kiousis (2002).
Karakteristik New Media: Archive
Karakteristik selanjutnya dari media baru adalah archive atau bisa disebut dengan istilah penyimpanan (arsip). Dalam media baru archive harus dipahami dalam kerangka teknologi komunikasi yang mengubah cara kita untuk menghasilkan, mengakses, hingga menaruh informasi itu sendiri. Ini jelas berbeda dengan istilah arsip yang selama ini dipahami sebagai sebuah kumpulan dokumen yang memuat informasi tertentum disimpan di sebuah tempat—bisa lemari, ruang atau gudang– dan hanya bisa diakses oleh orang tertentu. Juga, dalam perspektif media baru, sebuah arsip tidak hanya terdiri dari teks semata, melainkan juga sudah bisa memuat foto, film, maupun suara.
…online technologies have opened new possibilities for the remote storage of images (still and moving), sounds and texts which, increasingly, are accessible to the masses, not least because they require little technical knowledge to use. (Gane and Beer, 2008:71)








