Category Archives: Menulis

Bagaimana cara menulis?

“Kang, saya ingin menjadi penulis seperti Akang. Bagaimana caranya ya?”

Dengan atau tanpa redaksi yang sama saya rasanya sering mendapatkan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang bagi saya ‘termata polos’ dilontarkan oleh mereka yang selalu ingin menulis. Biasanya pertanyaan seperti ini selalu hadir setelah saya mengisi pelatihan, training, seminar, workshop, atau sebagainya. Juga, sering muncul di surat elektronik atau dinding Facebook.

Nah, pertanyaan serupa juga mampir di Yahoo saya; bunyinya kira-kira begini, “saya ingin menulis buku seperti Kang Arul. Tapi saya selalu bingung bagaimana memulainya?”

Mendapat pertanyaan seperti ini saya pun mulai berpikir ‘bagaimana saya memulai menulis buku-buku tersebut?’. Dan butuh waktu serta loading lama untuk bisa mengingat satu demi satu bagaimana saya memulainya. Mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sangat sangat menguras tenaga.

Share

Keluhan bukan barang baru bagi penulis. Bahkan penulis yang sudah menghasilkan buku pun kerapkali mengeluh ketika menjalani profesi menulis. Apalagi penulis pemula atau mereka yang mencoba-coba memulai karirnya dalam menulis. Selalu saja ada kalimat yang terlontar dari lubuk hati yang paling dalam:

“Wah, ide buntu. Mau nulis apa, nih?”

“Habis paragraf ini apa ya?”

“Masih bertahan di halaman 10, kapan nyampe halaman 100-nya?”

Share

Penulis itu harus MEMPERTIMBANGKAN WAKTU

Suatu ketika ada seorang editor in chief di penerbit ABC mengeluh kepada saya.

“Kang, setiap rapat dua pekanan saya selalu menolak belasan bahkan puluhan naskah hanya dengan melihat judulnya saja.”

“Loh, kok bisa.”

“Yah, mau bagaimana lagi.”

“Emang temanya nggak bagus? Atau cara nulisnya?”

“Bukan. Bukan soal itu. Temanya kadang bagus banget, cara nulisnya juga bisa dikatakan hampir baik, dan naskah ini sangat layak diterbitkan.”

“Karena penulisnya?”

Dia menggeleng.

“Lalu?”

“Ini soal waktu saja.”

***

Share

CLIENT FOCUS and NETWORKING

Menulis bukanlah pekerjaan yang mementingkan diri sendiri. Artinya menulis bukanlah proses yang hanya terpaku pada keinginan pribadi bagaimana naskah ini dihasilkan.  Sebuah naskah bahkan pada kenyataannya bukanlah milik pribadi yang dilarang untuk diutak-atik, diubah, atau direka bentuk. Pasalnya sebuah naskah yang dihasilkan penulis secara langsung maupun tidak langsung akan terikat oleh ketentuan yang dicanangkan oleh penerbit atau redaksi.

Sebuah majalah remaja memberikan informasi bahwa sebuah naskah cerpen haruslah antara 6 hingga 12 halaman. Jadi jangan pernah memaksakan untuk menulis cerpen di luar ketentuan tersebut, sudah tentu selain tidak menghormati ketentuan yang berlaku, menambah pekerjaan redaksi, juga terlihat tidak profesional.  Atau ada penulis yang menghasilkan naskah sekitar 150 halaman sementara yang diperlukan oleh penerbit minimal 200 halaman. Jangankan untuk melihat isi atau tema naskah yang diangkat, dari sisi teknis saja sudah membuat masalah. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana reaksi staf penerbitan yang menerima naskah tidak sesuai dengan ketentuan tersebut.

Seorang penulis kenamaan Stephen King pernah menulis 700 halaman untuk novel yang akan diterbitkan, ketika berada di tangan agen naskah ia diminta untuk mengurangi jumlah halaman menjadi antara 300 hingga 400 halaman; Stephen King pun mau melakukan hal itu.  Coba kita bayangkan, sebenarnya sekelas Stephen King bisa saja menolak untuk melakukan saran tersebut apalagi dengan pertimbangan sekitar 200 an halaman yang harus dihilangkan tersebut perlu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja uang. Tetapi di sinilah fokus kepada klien, dalam hal ini pihak penerbitan buku, yang diutamakan. Bisa jadi ada keterbatasan yang dimiliki penerbit dan bisa jadi saran untuk mengurangi ratusan halaman tersebut juga sesuai dengan kajian serta penelitian pihak agensi naskah dan penerbit.

Share