Category Archives: Public Relations

Model Iklan Efektif ala McGuire

McGuire merumuskan enam langkah yang membuat  sebuah iklan atau proses itu menjadi efektif. Langkah-langkah tersebut merupakan proses berkesinambungan, dan McGuire menyebutnya sebagai “the persuasion process”.

1. Presentation: pesan yang persuasif harus disampaikan kepada audiens tertentu sesuai target

Share

Organisasi Media Relations

Menjadi persoalan adalah bahwa pelaksana relasi media dalam menjalankan fungsi public relations tidak sepernuhnya mengandalkan unsur eksternal semata, melainkan juga unsur internal. Jika unsur eksternal lebih menekankan bagaimana model, efek, serta organisasi di media massa itu sendiri, sementara unsur internal lebih memfokuskan diri pada bagaimana organisasi public relations tersebut.

William F. Arens (1999:310) mendefinisikan Public Relations (PR) sebagai sebuah fungsi manajemen yang memfokuskan diri pada membangun/mengembangkan relasi serta komunikasi yang dilakukan individual maupun organisasi terhadap publik guna menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Publik yang dimaksud dari definisi di atas menurut Arens ada tujuh kategori publik, yaitu para Employees-Stockholders-Communities-Media-Government-Investment Community-Customers.

Share

Institusi Media Massa, Pengantar

Straubhaar dan LaRose (2002:44-46) menegaskan bahwa bisnis media berjalan dikarenakan adanya pasokan dana yang berasal dari pengiklan dan konsumen media. Nielsen Media Research, lembaga riset media yang memiliki perwakilan di Indonesia, melakukan penelitian pada tahun 2007.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa belanja iklan media TV tahun 2007 sebesar Rp 23,121 trilyun. Jumlah ini meningkat 13 persen dari belanja iklan tahun 2006 yang mencapai Rp 20,51 trilyun. Pada tahun 2004 belanja iklan di TV sebesar Rp 15,079 trilyun dan tahun 2005 sebesar  Rp 17,511 trilyun. Sedangkan belanja iklan suratkabar, dari Rp 8,1 trilyun untuk tahun 2006 menjadi Rp 10,6 trilyun.

Data Nielsen juga mencatat bahwa dalam memilih media TV untuk belanja iklannya, pihak agency membagi stasiun-stasiun TV swasta yang ada dalam tiga tier. Tier 1: RCTI, SCTV, dan Trans TV. Tier 2: Indosiar, Trans-7, dan TPI. Tier 3: ANTV, Lativi, Global TV, dan Metro TV. Di Tier 1, perolehan revenue terbesar tahun 2007 masih dipegang RCTI dengan Rp 1,560 trilyun, atau naik 7 persen dari Rp 1,460 trilyun (2006). Urutan kedua dipegang SCTV dengan Rp 1,300 trilyun, atau naik 10 persen dari Rp 1,180 trilyun (2006). Sedangkan Trans TV di urutan ketiga dengan revenue Rp 1,178 trilyun, atau naik 14 persen dari Rp 1,035 trilyun (2006). Patut dicatat di sini, meskipun nilai revenue yang diperoleh Trans TV tahun 2007 lebih kecil daripada RCTI atau SCTV, persentase kenaikannya adalah yang tertinggi, yaitu 14 persen.

Share

Memetakan Media

Vivian (2008:16-20) memberikan kategori kepada media. Pertama, Model Hot-Cool. Model ini menempatkan media menjadi media panas dan media dingin; penamaan panas-dingin ini berkaitan dengan keterlibatan audiens terhadap media.  Buku, majalah, tabloid, dan koran merupakan hot media karena membutuhkan intensitas khalayak ketika mengkonsumsi media dan menunut mereka secara aktif. Sedangkan cool media tidak memerlukan intensitas intelektual khalayak dan cenderung pasif.

Kedua, Model Hiburan-Informasi. Bahwa media dapat dibedakan dilihat dari jenis content yang ada; apakah mengandung informasi, hiburan, atau kombinasi antara hiburan dan informasi. Televisi sering masuk dalam ketagori media hiburan karena persentase terbesar dari program-program televisi memuat hiburan. Namun, bisa juga dimasukkan dalam ranah informasi bila program yang dirancang mengandung lebih banyak informasi.

Share