Category Archives: Sudut Pandang
Buku: Cyber Media, Pengantar Mempelajari Media Baru
Buku ini merupakan buku ajar dalam mempelajari budaya siber dan fenomena yang terjadi di ruang virtual tersebut. Dalam mata kuliah Cyber Media, atau di beberapa universitas yang saya ampu disebut sebagai Media Online, pembahasan tentang ini memfokuskan diri pada Internet dan Cyberculture bahasan tentang 1) Internet Sebagai Kultur dan Artefak Kultural, 2) Tipologi (Internet) David Bell, 3) Konsep Cyberspace, 4) Teknologi Determinisme dan Perkembangan Menuju Media Baru, 5) Kehadiran Teknologi Komunikasi (Media) Baru, 6)Antara Broadcast Media dan Network Media, 7) Komunikasi Termediasi Komputer, Antara Integrasi dan Interaksi, atau
Karakteristik Media Baru dalam Perspektif Budaya dan Media. Buku ini juga membahas fenomena yang terjadi dengan kehadiran social media serta gerakan citizen journalism.
Judul: Cyber Media
Penulis : Rulli Nasrullah, Dr(can.), M.Si
Terbit: Januari 2012
Penerbit: LPSI Publishing
Hal: xiv + 160
Harga: Rp 58.000
Pengertian Bahasa Jurnalistik
Pengertian bahasa jurnalistik, dengan demikian harus berpedoman kepada kaidah dan unsur-unsur pokok yang terdapat dan melekat dalam definisi jurnalistik. Menurut Dewabrata, penampilan bahasa ragam jurnalistik yang baik bisa ditengarai dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari atas sampai akhir, menggunakan kata-kata yang merakyat, akrab di telinga masyarakat sehari-hari; tidak menggunakan susunan yang kaku formal dan sulit dicerna. Susunan kalimat jurnalistik yang baik akan menggunakan kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya. Bahkan nuansa yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu diperhitungkan (Dewabrata, 2004:23).
Namanya Virus ‘Facebookholic’
Ayo, Dukung Kegiatan Guruku Menulis
Sebagai tenaga pendidik, guru (juga dosen) dituntut untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan pemerintah. Standar ini akan menjamin mutu guru, pengajaran yang dilangsungkan, dan juga kualitas lulusan dari pendidikan tersebut. Salah satu dari standar kompetensi tersebut adalah kemampuan menulis yang dibuktikan dengan publikasi karya guru baik di media massa, jurnal, maupun buku.
Namun, tidak semua guru memiliki kemampuan dalam menulis. Hal ini dikarenakan pendidikan formal yang ditempuh oleh guru tidak maksimal mengajarkan bagaimana seorang guru juga harus piawai dalam menulis. Juga, ketidak mampuan tersebut bukan karena guru tidak mau berusaha melainkan tidak ada peluang atau kesempatan bagi guru untuk mendapatkan pelatihan menulis, bahkan dengan tanpa biaya alias gratis, secara profesional.








