Karakteristik New Media: Interface
Teknologi media baru, baik perangkat keras (hardware) seperti komputer maupun perangkat lunak (software) seperti jaringan internet, pada dasarnya beroperasi dengan saling terhubung. Sebagaimana dijelaskan dalam karakteristik Network bahwa setiap komputer, sebagai misal, merupakan satu entitas tersendiri yang membentuk jaringan di antara komputer-komputer yang lain. Namun, pada dasarnya baik komputer maupun internet merupakan media lalulintas informasi yang mewakili manusia sebagi konsumen cum produsen. Inilah salah satu karakteristik dari media baru lainnya yang disebut dengan Interface; term ‘Interface’ akan menjelaskan bagaimana media baru beroperasi dan bagaimana efek dari produksi informasi itu memberikan efek. Sebab, term tersebut merupakan sebuah konsep dan alat material sehingga memungkinkan terhubung dengan network.
For if we wish to see how connections between different systems are forged and are subsequently incorporated into networks how information and various bodily and technical materialities are interwoven (Chapter 3), or how new media devices provide ‘interactive’ experiences (Chapter 6), then analysing the concept of interface might prove to be a fruitful exercise. Perhaps the most important quality of interfaces is that they navigate boundaries between different objects and systems, and in the process not only enable networks to operate but also to extend into new terrain, and thereby grow. It is thus not far-fetched to claim that interfaces are to be found at the very centre of new media systems and infrastructures. Even a cursory glance around public and private spaces reveals the range of interfaces that are today woven into our everyday lives, including the interfaces of mobile phones, laptops, personal digital assistants, MP3 players and so on. (Gane and Beer, 2008:53-54)
Steven Johnson juga menjelaskan bahwa kata ‘interface’ merupakan perangkat lunak yang menghubungkan interaksi antara pengguna (user) dengan komputer. Interface berfungsi semacam alat penerjemah hingga memediasi antara dua entitas dalam sebuah network.
In its simplest sense, the word refers to software that shapes the interaction between user and computer. The interface serves as a kind of translator, mediating between the two parties, making one sensible to the other. In other words, the relationship governed by the interface is a semantic one, characterized by meaning and expression rather than physical force. (Johnson, 1997: 14 dalam Gane and Beer, 2008:54)
Dengan menggunakan terminologi ini, maka dapat dipahami bahwa interface bisa dipahami fungsinya sebagai penggabung dua tubuh (bodies) atau sistem yang berbeda sehingga bisa menyatu, yakni antara manusia (human) dan mesin (internet/komputer), antara manusia dengan manusia, dan bisa jadi di antara mesin-mesin yang berbeda. Interfaces juga memungkinkan sebuah formasi atau tata aturan dari jaringan itu terjadi, baik secara bersilang maupun di antara sesuatu (being), objek, dan bahkan media. Namun, interfaces tidak hanya digunakan untuk kajian dalam media baru an sich yang menjelaskan bagaimana manusia dan teknologi terhubung dan tidak pula hanya untuk menjelaskan bagaimana teknologi itu digunakan. Term ini menurut Gane dan Beer juga bisa digunakan untuk konsep-konsep yang berada dalam media komunikasi, entah itu media baru maupun media lama (konvensional). Sejalan dengan pemahaman penggunaan term tersebut, Lev Manovich menegaskan bahwa media lama seperti buku dan majalah merupakan penghubung atau interfaces dari penulis kepada pembaca. Begitu juga dengan film atau sinema, ‘‘its physical interface is the particular architectural arrangement of the movie theatre’ (Manovich 2001: 73 dalam Gane and Beer, 2008:55).
Dalam media baru, perangkat komputer bisa dikatakan sebagai interfaces. Perangkat-perangkatnya seperti tetikus, papan ketik, layar, perangkat lunak itulah yang mengubungkan manusia dengan jaringan. Sebaliknya, di dalam tubuh manusia juga ada interfaces berupa jari yang menekan papan ketik maupun memainkan tetikus atau mata yang memerhatikan gambar di layar. Wacana tentang ‘tubuh’ atau body menurut Bell (1999:138) perbincangan tentang teori tubuh dalam media baru pada kenyataannya mengulas tubuh dalam pengertian yang bermacam-macam dan dimaknai dengan cara yang beragam pula. Body direpresentasikan dengan atau melalui teks di komputer. Artinya, melalui interfaces perangkat keras maupun perangkat lunak komputerlah body bertransformasi menjadi entitas dalam sebuah jaringan. Misalnya, komunikasi melalui media komputer atau Computer Mediated Communication (CMC) pada dasarnya mentransformasikan body kedalam bits dan bites. Sementara body dalam pengertian tubuh yang dibalut daging dan darah (meat) dalam perspektif cybercultures, maka Bell (2001) menyatakan bahwa term yang digunakan dalam hal ini adalah techno-bodies. Bagi Bell, walau body di internet diwakili oleh teks di layar komputer, pada kenyataannya ada hubungan yang langsung antara tubuh virtual dengan tubuh nyata. Menurut Deborah Lupton (Bell, 1999:141) meski seseorang bisa menjadi siapa saja di internet, berjender apa saja, berusia berapa saja, dan bahkan menjadi apapun akan tetapi pada kenyataanya ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ada perut yang lapar, leher yang sakit, jemari yang nyeri, dan bahkan tulang punggung yang pegal yang diakibatkan duduk terlalu lama serta beraktifitas di depan komputer.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa interfaces dalam karakteristik media baru sebagai penghubung dari berbagai lapisan yang ada di sistem teknologi media baru yang memungkinkan terjadinya kontak di antara entitas, dengan entitas di luar jaringan, dan beberapa kasus di antara tubuh manusia di berbagai tempat. Interfaces-lah yang memungkinkan bagaimana informasi itu bisa berlalu-lintas di antara pengguna maupun di antara media mesin (komputer) yang berbeda. Hanya saja, berbeda dengan media lama—seperti buku, majalah, bahkan radio—dalam media baru keberadaan pengguna tidak hanya pasif menerima informai, melainkan juga aktif dalam memroduksi informasi. Pengguna juga tidak hanya menerima satu informasi sesuai dengan apa yang diproduksi oleh institusi media yang terkadang juga memuat informasi yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna, melainkan pengguna bisa memilah informasi apa saja yang diinginkan dan dari sumber yang jumlahnya bisa dikatakan tak terbatas. Juga, menurut Manovich, sebagai sebuah interfaces, komputer tidak hanya medium yang menghubungkan manusia maupun mesin dalam jaringan informasi di internet semata, melainkan sudah menjadi budaya yang mengatur bagaimana manusia melakukan koneksi dengan jaringan informasi atau berhubungan dengan beragam data di internet.
The interface shapes how the computer user conceives of the computer itself. It also determines how users think of any media object accessed via a computer. Stripping different media of their original distinctions, the interface imposes its own logic on them. Finally, by organizing computer data in particular ways, the interface provides distinct models of the world. (Manovich, 2001: 65)









