W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menjual Diri di Internet

Pada sebuah subuh, iseng saya membuka internet di komputer jinjing saya. Sambil Berselancar untuk mencari bahan-bahan tulisan saya pun menyelanya dengan membuka salah satu situs sosial media. Kening saya mengernyit beberapa saat membaca apa yang disajikan di situs sosial media yang konon kabarnya pengguna dari Indonesia masuk ke peringkat ketiga terbanyak di dunia. Kernyitan berasal dari tulisan kabar di status si empunya akun; mulai dari yang biasa saja soal kegiatan sehari-hari sampai pada hal-hal yang teramat pribadi.

Sebutlah sebuah misal, seorang suami mengantarkan ibu mertunya ke sebuah tempat selepas itu ia menuliskan sebuah status di sosial media tentang bagaimana jauh dan macetnya perjalanan mengantar itu. Selang berapa lama kemudian saya melihat sang istri membalas status itu dengan sebuah komentar ringan “tapi iklas kan?” dan sesaat kemudian sang suami juga langsung menajwabnya: “iklas kok, Ma”.

Tiba-tiba saya jadi teringat ungkapan kekesalan seseorang soal status orang lain di situs jejaring sosial. Entah mungkin karena yang bersangkutan belum menikah atau memang pada saat itu emosinya masil labil, namun setiap melihat status mereka yang pengantin baru jarum emosinya langsung naik ke level merah alias “sensitif”.

Waktu itu, iseng saya pun menelusuri status yang membuatnya kesal itu dan saya pun memahami betapa kesalnya ia membacanya. Bayangkan setiap hari adalebih dua puluh status yang mengungkapkan betapa bahagianya dia dan pasangannya, menggambarkan hidupnya di surga, bahkan makan lontong sayur berdua saja ditulis di akun sosial media mereka. Malah saya menemukan bahwa saat salah satu pasangan itu sedang sakit, maka bertubi-tubilah statusnya yang seolah-olah sakitnya itu tidak ada obatnya; “panik tingkat dewa” kata anak muda sekarang.

Bukan hanya di hari itu saja, setiap hari sampai tiga bulan status yang bersangkutan selalu penuh. Tidak hanya soal status, tetapi sampai-sampai sang pasangan pengantin baru itu mempublikasikan foto-foto ruang pribadi mereka. Mulai dari kamar tidur, lemari, isi lemari, dan sebagainya.

“Bukan saya iri atau jealous,” katanya mengadu, “tapi tidak semua hal harus dituliskan di sosial media. Apalagi apa yang kita tulis itu kan muncul otomatis di akun orang lain sehingga tanpa sengaja atau tidak orang lain akan membacanya.”

 

Tentang Diri

Inilah fenomena yang tengah melanda hampir kebanyakan kita yang memiliki akun di sosial media seperti FacebookPower/Knowledge on Facebook. Read more ... », Twitter, Instangram, atau Piterest. Seolah-olah mereka menuliskan jurnal atau blogging di ruang pribadi mereka. Menganggap baha sosial media itu bebas untuk memublikasikan apa saja termasuk hal-hal yang sebenarnya bersifat pribadi.

Dalam pandangan media baru, internet memang memberikan sarana bagi aktivitas menulis tentang diri di jurnal elektronik (blogging). Blogging atau aktivitas menullis jurnal di internet pada dasarnya merupakan kegiatan menampilkan citra diri atau memproduksi isi (informasi) yang terpusat pada diri; meminjam istilah yang dipopulerkan Giddens, bahwa produksi informasi dan berita yang menyandarkan pada realitas  diri baik secara internal maupun eksternal di media jurnalisme warga pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep “individualization”. Secara umum, bisa dikatakan, term  “individualization” disandarkan pada sebuah proses dimana relasi soaial dan hubungan personal di dalamnya, bentuk-bentuk kelompok sosial dan komitmen terhadap kelompok tersebut semakin berkurang karena faktor-faktor seperti sejarah, tempat dan atau tradisi. Pada saat itulah individu membebaskan dirinya dari ruang, tradisi, pengaruh, maupun sejarah dan pada akhirnya individu akan memposisikan dirinya sesuai dengan konteks kebutuhan saat itu, membentuk diri serta mengkonstruksi diri sesuai motif atau tujuan yang ingin diraih; bahwa hubungan yang murni (pure) pada dasarnya sudah bukan lagi terbangun secara sadar dan sukarela, setidaknya salah satu pihak (produsen) memiliki motivasi tertentu.

Misalnya, perangkat di Facebook memungkinkan pengguna untuk menambah teman yang terkoneksi di akun pengguna. Cara kerja penambahan teman ini memungkinkan antarpengguna mendapatkan pembaruan publikasi dan kemudahan untuk langsung mengakses akun pengguna tersebut. Asumsi yang dibangun, semakin banyak teman maka semakin populerlah akun si pengguna.

Tapi betulkah ia populer? Bukankah kepopulerannya hanya karena banyaknya teman virtual yang dimilikin dan belum tentu semua teman itu dikenalnya secara personal. Belum lagi tidak adanya ikatan emosional yang terjalin di antara teman-teman virtual itu. Inilah yang dikatakan Turkle bahwa di era sekarang hubungan pertemanan itu memiliki ketergantungan dengan teknologi dan bukannya relasi yang lebih personal dan melibatkan fisik serta psikis.

 

Pergeseran Budaya

 

Saya bukan ahli hukum Islam apalagi memiliki otoritas untuk mengeluarkan sebuah fatwa yang berujung pada dua kata dasar “boleh” atau “tidak boleh”. Tetapi sebagai pengkaji budaya dan media saya melihat ada yang “salah” di sini. Mengapa? Sebab saya melihat ada kecenderungan mengikuti trend yang salah kaprah di antara kita semua terutama soal bagaimana sebaiknya menggunakan sosial media.

Coba bayangkan lagi bagaimana sepasang anak muda yang sedang mengenyam pendidikan tinggai di salah satu kampus terbesar di Singapura sana memamerkan hubungan mereka. Tidak sekadar memproklamirkan bahwa mereka sedang menjalin cinta, tetapi cinta itu dibuktikan dengan kedekatan fisik seperti ciuman, pelukan, tak berpakaian dan sebagainya melalui foto-foto vulgar di internet. Hal-hal tidak senonoh dan tentu saja memamerkan sesutau yang belum halal.

Okelah mereka itu tidak beragama Islam dan mereka bebas melakukan itu semua. Namun, sebenarnya apa yang dilakukan itu bisa jadi juga sudah melanda para pengguna yang ada di Indonesia. Bukan bermaksud menuduh, tapi dari semua akun situs jejaring sosial yang kebetulan secara tidak sengaja terhubung melalui akun teman saya menemukan sudah mulai banyak pasangan anak muda yang memamerkan diri mereka. Mungkin tingkatannya masih sekadar foto berdua, berpelukan, atau saling menempel pipi.

Duh, saya jadi berpikir apa maksud itu semua? Bukankah itu sama saja menjual diri di internet dan membuka peluang untuk hal-hal yang cenderung mengarah kepada keburukan. Saya tidak ingin berlama-lama berkutat soal yang tidak sopan ini. Sebagai akademisi saya hanya melihat ada pergeseran budaya yang tengah melanda kebanyakan kita dalam soal bagaimana mengelola sebuah akun di situs jejaring sosial itu.

Fenomena ini membawa kita pada pusaran tidak malu membuka diri kepada khalayak umum. Artinya, disadari atau tidak kita dengan seangaja mempertontonkan hal-hal pribadi ke ranah publik. Bahwa publik dipaksa untuk mengetahui apa kekesalan yang ada di hati kita, apa pikiran atau komentar kita, dan kacaunya publik pun harus tahu bahwa saat ini “seseorang sedang datang bulan”.

Anehnya… banyak di antara kita yang ikut-ikutan menjual diri di internet.

Wallahua’lam

Artikel ini sudah dipublikasikan di kolom Sorotan Majalah Sabili (1104)

One Response to Menjual Diri di Internet

  1. La Ode Chusnul Huluk

    Saya terrefleksi beberapa teman pengguna jejaring sosial Facebook dan twitter. Lebih dari sekedar menjual diri, mungkin. Ketika pengguna tertentu mengupload photo Neneknya, Bibinya, Pamanannya atau orangtua yang mereka hormati dan dianggap humoris atau ada sifat lawakan. Seolah photo yang diupload itu adalah bahan atau topik yang didiskusikan oleh publik. Siapa saja boleh mengomentari pada photo itu.
    Mengomentari dengan bahasa yang di bawah garis etika dengan gaya tulisan yang humor untuk mengundang perhatian teman lain menaruh komentar yang tanpa sadar sangat menjatuhkan harga diri orang dalam photo itu. Hanya karena neneknya, atau kakenya lucu, bagi pengguna facebook seolah ini juga perlu dalam menikmati fasilitas jejaring sosial ini.
    Untuk ini, saya merasa tidak setuju jika, kadang dari saudara kita sendiri manaruh photo paman, ayah, atau kakek, dengan menngenakan busana layaknya muslim di Arabiah dan dibumbuhi komentar yang mengundang lawakan yang tidak bermutu dan menanggalkan budaya kita. Benci membacanya, kadang sampe pada lawakan, “pakaiannya ala teroris banget nih”, walau padahal yang mengupload tidak mengira komentarnya akan separah ini.
    Sehingga, sepakata saya dengan Kang Arul, karena Indonesia sebagai high contact cultural sangat miris dengan perbuatan yang kadang tanpa terpikir akibatnya.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


× five = 10

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>