W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Saya ingin menjadi “pengantar” yang baik…

Suatu ketika, seorang mahasiswa mendatangi saya dan bertanya, “Pak, saya ingin seperti Bapak,” katanya mantaf.

“Nah, lo? Seperti apaan?”

“Ya, seperti Bapak, yang bisa nulis banyak buku, yang bisa sekolah tinggi, yang bisa jadi ndosen dimana-mana.”

Saya hanya tersenyum.

“Saya tuh kalau melihat Bapak rasanya sibuk banget ya, Pak? Tiap baca status FB-nya selalu saja sedang ngisi pelatihan ini, sedang ada di kota ini… super-duper sibuk.”

Saya kembali tersenyum. Dan entah kenapa pikiran saya seperi melayang di 4 atau 5 tahun yang lalu.

Kala itu saya adalah dosen muda di sebuah perguruan tinggi. Saya rata-rata mengajar 4 hingga 6 kelas di beberapa perguruan tinggi.  Per kelas mahasiswanya antara 30 sampai pernah 50-an.

Nah, saya mencoba apa yang pernah saya pelajari untuk diterapkan di kelas. Saya copy paste cara belajar dan bekerja keras yang saya alami hingga mencapai posisi yang dikatakan si mahasiswa itu.

Kalo boleh dibilang, saya cukup kejam. Setiap bertemu saya mewajibkan mereka menulis 2 atau 4 halaman soal materi yang akan dipelajari saat itu. Wajib, tidak boleh tidak. Jika tidak, maka silahkan keluar. Di akhir semester semua tulisan itu harus dikumpulkan dan untuk mengantisipasi tidak ada yang plagiarisme saya sengaja buat cap alias stempel khusus; jadi setiap kuliah langsung distempel lengkap dengan tanggal.

Juga, di kelas saya dengan mudahnya mematahkan pandangan dan pedapat mahasiswa. Tak jarang saya bahkan mengejek mahasiswa yang berpikir dan berargumen dengan dangkal. Baca buku pun jadi kewajiban mereka yang ikut kelas saya. Bukunya berat-berat dan berbahasa inggris pula.

Saya rasanya waktu itu punya alasan kuat: karena dengan beginilah dulu saya diajarkan oleh dosen saya, dan buktiknya berhasil.

Kontan saja… saya menjadi dosen killer. Dan hasilnya? Praktis nilai yang keluar antara C atau D. Kalau ada yang A atau B paling 1 atau paling banyak 5 orang.

Hal yang sama sering terjadi di pelatihan dan bimbingan menulis yang saya adakan. Seringkali saya sinis ke peserta. “Ah, dikasih tugas seminggu aja nggak selesai-selesai. Katanya mau jadi penulis? Cuma omong doang,,. percuma.”

Langsung saya terduduk dan berpikir. Apa salah pengajaran saya? Apa yang kurang dari materi yang saya berikan? Atau mereka saja yang memang bodoh, oon, dan berotak busuk? Ah, saya coba mengurai benang kusut itu selama bertahun-tahun.

Dan sampailah pada muara renungan itu bahwa “Saya adalah saya dan mereka adalah mereka.”

Ya, saya tidak mungkin dan rasanya tidak tepat jika menginginkan mereka seperti saya. Memberikan cermin yang harus dilihat oleh mahasiswa sementara pantulan bayangan di cermin itu bukan wajah mereka, melainkan wajah saya.

Ya, saya punya jalan sendiri untuk mencapai ini semua. Mereka juga punya jalan sendiri untuk mendapatkan apa yang diinginkan untuk kesuksesan hidup.

Dan yang pasti… setiap orang ada saatnya. Bisa jadi saat ini saya adalah orang (yang merasa dirinya) hebat, berpendidikan S3, jadi bapak ndosen, dan jadi trainer nasional. Tapi, bisa jadi besok semua itu tidak ada apa-apanya dengan mahasiswa yang saya ajarkan. Bisa jadi mahasiswa saya itu akan jadi gubernur, menteri, bahkan presiden. Sementara saya? Saya tetap jadi bapake ndosen…

Jadi… saya semakin sadar bahwa saya tidak boleh menjadikan orang lain sama seperti saya; entah itu dalam pendidikan di kelas, entah itu dalam organisasi, entah itu dalam kelompok, bahkan dalam keluarga kecil saya sekalipun. Setiap orang punya gaya dan caranya masing-masing untuk memaknai jalan hidupnya…

Dalam pandangan normatif, saya tidak boleh memakai kacamata kuda. Bagusnya saya, dalam pandangan saya sendiri, belum tentu bagus dan pas buat mereka. Jika, seandainya, kesalehan saya diukur dengan “Haji”, maka saya tidak bisa memaksakan mereka harus haji sementara untuk bayar uang kuliah saja sudah membanting tulang dan bisa jadi ibu-bapaknya sudah menjual harta benda milik mereka.  Jika, seandainya, saya sudah pandai menulis, maka saya tidak bisa memaksakan mereka harus jadi penulis dan menerbitkan buku sementara mereka lebih senang sekadar membaca, berdiskusi, atau ada yang pendiam.

Lalu, apa tugas saya? Tugas saya hanya mengatarkan saja. Kalau pun mereka salah langkah, itu karena saya kurang pandai membimbing, kurang bijak dalam berkata, kurang santun dalam menegur, kurang sopan dalam mengingatkan, kurang ini… kurang itu…. karena mereka, mahasiswa saya itu, adalah manusia yang bisa dan pasti melakukan kesalahan biarpun kecil…

Saya jadi sadar untuk jangan berikan cermin gambar saya ke orang lain sementara ada standar terlalu tinggi yang saya terapkan di sana. Saya harus bijak mengantarkan mereka dengan pilihan-pilihan yang akan mengantarkan pada kesuksesan. Kalaupun ada yang berontak, itu berarti kita sendiri yang memberi peluang kepada mereka untuk berontak dan (lagi-lagi) menerapkan standar terlalu tinggi… atau jangan-jangan itu hanya pendapat saya sendiri yang katro bin jumud karena memandang pemberontakan itu dari defenisi saya bukan defenisi mereka. Memandang masalah itu teramat besar sekali, sedangkan mereka menganggapnya hal sepele. Memakai ukuran-ukuran saya, bukan mereka.

Maka, sejak saat itu saya mulai sangat-sangat dan sangat berhati-hati ketika berhadapan dengan orang lain. Berhati-hati untuk tidak mengeluarkan cermin yang disitu ada gambar saya…  karena bisa jadi itu tidak akan mengantarkan mereka kepada kesuksesan, malah akan melukai mereka. Melukai hati orang itu sebentar saja… tapi bekas lukanya bisa terlihat abadi dan dalam.

“Gimana Pak, apa yang harus saya lakukan agar bisa sukses kayak Bapak?” mahasiswa itu bertanya lagi.

Saya tersenyum. Lalu, “Jadilah dirimu sendiri…,” kata saya, “dan jika kamu melakukan sesuatu, saya percaya kamu tahu alasan dan akibat dari keputusan itu.”

Beberapa tahun kemudian saya bertemu dengan dua “mantan mahasiswa”. Yang satu dulu di kelas suka bikin ribut, nggak pernah serius, dan nilainya cuma rata-rata. Tapi, ia memberi kabar kepada saya… selain sudah lulus dan menjadi sarjana, dia menjadi orang sukses, jadi manajer di perusahaan dan karier yang mantaf (sori pake F bukan P). Sementara yang satu lagi yang di kelas  terlihat rajin, IPK terakhirnya 3,8 dan cukup penurut  serta saya berharap dia menjadi dosen karena dia mengingatkan bagaiman saya gigih ketika kuliah… kabar yang sampai ke saya ternyata dia hanya jadi istri seorang guru SD di pedalaman. Tak ada karier yang didukung pencapaiannya ketika kuliah.

Jadi, yang satu sukses yang satu lagi tidak sukses? Eitsss… saya langsung menghapus pikiran itu. Saya menganggap keduanya sudah sukses dengan pilihannya masing-masing…

Saya jadi ingat lagi kalimat “sakti” dari seorang teman… yang bikin bahagia itu mengantarkan orang untuk menjadi sukses

Ya Allah, semoga saya bisa menjadi “pengantar” yang baik… kepada siapapun

Jogja, 31 Juli 2011

  (605)

2 Responses to Saya ingin menjadi “pengantar” yang baik…

  1. Kang Arul

    menuju ke kompasiana…

  2. Dadang Abdullah

    kang arul, saya sering nulis di kompasiana, tolong dikoreksi dong. trus saya termasuk ada dibidang apa baiknya kalo menulis. makasih ya kang..

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


two × = 6

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>