Seberapa Besar Cintamu?
“seberapa besar cintamu akan ditandai dengan seberapa besar pengorbanan yang engkau lakukan”
Dulu, ya sekitar 25 tahunan-lah, saya pertama kali menulis sebuah cerpen. Anak sekolahan berseragam putih-biru yang coba-coba menulis karya fiksi pertama setelah setiap minggu membaca serial dan cerpen di Majalah HAI.Saya pelajari buku tata bahasa Indonesia, saya perhatikan bagaimana para penulis menggoreng emosi melalui teks di majalah, saya lahap novel-novel yang saya beli di pasar, dan bahkan saya habiskan buku sakti Tatang S yang berkisah tentang punakawan di kampung Tumaritis.
Tapi, saya terpojokkan dengan satu keadaan. Saya tak punya mesin tik di rumah. Mesin tik yang saat itu harganya sekitar Rp250 ribuan, barang mahal bagi seorang anak atau sebuah keluarga yang ayahnya bekerja sebagai PNS golongan II. Lalu, bagaimana dengan nasib dan keinginan saya menjadi penulis?
Sampai akhirnya.. cring… keinginan saya menulis melebihi rasa sengsara saya karena tidak bisa memiliki mesin tik. Kebetulan tetangga saya, kawan main bola saya di komplek, punya mesin tik di rumah. Mesin tik milik sang ayah yang bekerja sebagai tenaga akutansi di perusahaan swasta. Maka, api yang sempat padam mulai berpijar kembali.
Setiap siang saya selalu nongkrong di rumahnya. Mengetik satu dua lembar di kertas HVS yang saya beli dari simpanan uang jajan selama tiga hari. Selain kertas, saya juga menyiapkan tip-ex; entah itu tip-ex yang botolan atau yang khusus untuk mesin tik, yakni tip-ex kertas.
Dan perjuangan saya menumbuhkan hasil. Bukan karena tulisannya mau jadi dan diterbitkan di media, melainkan sahabat saya dari SD sampai sekarang–namanya Roni– di rumahnya ada mesin tik juga. Merknya Brother, terkenal banget tu merk di zaman itu. Dan luar biasanya si mesin tik itu masih ada sampai sekarang dan masih digunakan.
Tak mau membuang kesempatan besar tersebut saya pun sampai menginap di rumahnya di lantai 2 itu. Mengentik dari sore sampai pagi. Menghasilkan berlembar-lembar cerita pendek yang kadang saya kirimkan ke sebuah media di bilangan Palmerah dengan naik kereta api.
Berjuangan saya belum selesai. Mengetik di mesin tik ternyata membawa dampak lain. Soal salah ketik atau revisi kalimat adalah tantangan berat lain yang harus dihadapi. ya, jika salah saja satu kalimat atau kurang pas, mau tidak mau saya harus mengetik ulang lembar tersebut. Namun, yang bikin sengsara adalah jari-jemari saya. Setiap menghasilkan satu buah cerita pendek, sekitar 6 halaman, saya membutuhkan waktu sekitar 1 minggu untuk merawat jari yang bengkak, keseleo, atau kesakitan. Menekan tuts mesin tik tidak selembut menekan tombol di papan ketik (keypad) komputer.
Apalagi ketika jemari sudah kesakitan, ide pun sudah mentok. Tak ada kalimat yang bisa saya hasilkan sebaris pun…
Rasanya ingin berhenti saja saya waktu itu. Toh, menulis tidak menghasilkan apa-apa selain berlembar-lembar kertas dan jemari yang bengkak plus punggung dan leher yang pegel. Ingin berheti saya ketika surat penolakan itu datang atau ketika redaksi mengatakan langsung kepada saya bahwa naskahnya tidak layak… di ruangan redaksi saya coba sekuat tenaga untuk menahan agar air mata saya tidak mengalir. Kalau di luar, itu lain cerita. Bayangkan seorang anak SMP mencoba masuk dalam dunia peperangan kepenulisan…
Tapi… meski saat ini tidak ada hasil apa-apa dan uang jajan saya mesti terus-menerus di simpan untuk membeli kertas, saya putuskan untuk terus menulis. Saya yakin kalau saya mencintai hobi saya ini diperlukan pengorbanan untuk membuktikan rasa cinta itu…
Menanjak SMA, saya masih saja mengetik. Tapi beruntunglah saya bisa mengetik di tempat redaksi sebuah mingguan. Kebetulan saya banyak kenal orang-orangnya karena secara rutin setiap pekan tulisan saya nongol di tabloid tersebut. Jadilah saya meningkatkan perangkat menulis saya, dari mesin tik ke komputer. Dulu programnya Wordstar dan mesin print-nya LX-300 yang kalo sedang mencetak bunyinya lumayan ngokrestra.
Kuliah saya jauh lebih beruntung; saya mendapat pinjaman mesin tik dari sang paman dan juga saya bisa mengunakan komputer di kampus. Saat itu saya didapuk jadi pengurus senat dan juga ketua UKM penerbitan. Di sekretariat UKM penerbitan itulah saya menginap (baca: tinggal) selama hampir 2 tahun. Sebab, di sekretariat itu ada perangkat komputer lengkap dengan print-nya. Bagian saya mengetik antara siang atau malam. Sisanya dipakai anak-anak se-UKM penerbitan untuk main game: gamenya ninja. Hahahaaha…
Soal bacaan, saya salah satu orang yang holic dengan bahan bacaan. Perpustakaan SMP jadi tempat nongkrong paling asyik. Atau lapak koran yang dijual tetangga saya juga menjadi tempat nongkrong kedua paling asyik yang sering saya datangi dan kadang saya ikutan jualan. Beruntunglah ayah saya langganan koran sore, jadi setiap sore saya tak lupa membaca koran; meski saya lebih senang baca di hari minggu karena ada TTS dan karikaturnya.
Saat kuliah, saya mulai berani membeli dan mengoleksi buku. Kiriman bulanan dari emak biasanya saya sisihkan untuk membeli buku-buku. Sebagai anak kos saya taruh buku itu di rak papan yang saya buat secara sederhana di dinding kos. Sebagian lainnya saya taruh di kardus mie.
Tapi, pernah suatu ketika–saya ingat sekali kejadian ini–karena bernafsunya membeli buku saya lupa bahwa tanggal 1 masih 20 hari lagi. Tapi buku sudah ditangan dan kasir pun sudah menyetak bon. Wah, kalang kabutlah saya menghitung dan menghemat pengeluaran untuk sisa-sisa hari ke depan. Apa yang harus saya lakukan? Ah, hanya tiga yang rasanya masuk akal: 1) mengunjungi teman-teman kuliah dan menginap di rumah mereka (plus numpang makan), 2) menghadiri pesta pernikahan siapa saja, dan 3) menghadiri tahlilan kematian. Suwer lho! Beneran ini.
Hari ini… tadi subuh sekali saya berdiri di salah satu sudut rumah kontrakan saya. Saya pandangi buku-buku yang tertata di rak. Saya pandangi koputer pc. Saya pandangi laptop. Saya pandangi dua printer saya. Saya pandangi meja kerja saya yang cukup nyaman walau kayunya sudah ada yang patah… itulah peralatan menulis yang saya beli dari hasil tulisan saya… hasil dari perjuangan 25 tahun lalu…
Kemudian saya pandangi kaver-kaver buku yang saya pigura dan pajang di dinding… entah mengapa saya rasakan ada butiran air di kedua sudut mata saya….
Dan sekarang 25 tahun kemudian saya merasakan buah dari cinta saya terhadap profesi menulis… buah dari pengorbanan demi pengorbanan… bukan karena mendapatkan lampu ajaib yang di dalamnya ada jin untuk memeuhi tiga permintaan seketika…
semua karena saya mencintai menulis….









Huhuhu…..mengharukan…sumpah ga nyangka kang arul ini, yang dulu biasa kupanggil ka rully ato ka uwi, saat ini sudah dalam pencapaian yang menurutku luar biasa. Tak pernah terbayangkan sosok yang dulu begitu jauh dari imut imut, malahan lebih dekat ke amit amit ini…(hehehe…piisss ya ka…)mampu terbang ke langit…Semua karena kegigihan dan semangat yang tak sempat dibiarkannya meliar dalam dirinya… GO go go..Ka Rully…Go…Keep in the good spirit….
Kang Arul hebat ….
Kang arul hebat …..