Self Commodity Warga dalam Citizen Journalism

new-media

sumber gambar: http://www.edtechmagazine.com/k12/sites/edtechmagazine.com.k12/files/imagecache/articlelarge/articles/2011/11/112911-300.jpg

Pemanfaatan ruang citizen journalism tidak hanya dilakukan  oleh perusahaan media semata, melainkan juga dilakukan oleh warga; bahwa komodifikasi warga terhadap media citizen journalism pada dasarnya terfokus pada komodifikasi diri atau self-commodity.  Di media citizen journalism, wargalah yang menentukan, mengkonstruksi, bahkan memiliki maksud tertentu ketika memublikasikan konten. Media citizen journalism yang ada internet pelaku bisa sekaligus bertranformasi menjadi sumber berita sekaligus. Artinya, publikasi konten berita dalam media citizen journalism terkait dengan segala sesuatu, peristiwa, atau bahkan pikiran cum perasaan si pemilik akun itu sendiri.

Fenomena ini sebagaimana dijelaskan oleh  W. Loosen  bahwa internet merupakan medium yang membuka peluang bagi siapa saja untuk memublikasikan hal-hal pribadi ke ranah publik, seperti menyebarkan foto aktivitas si pemilik akun.

…privacy concerns were not raised for the first time when the Internet allowed private persons to distribute photographs and information about themselves (and others), or with the (scientific and societal) discourse of online privacy. However, private information distributed via social media does make a difference, because the creators of such information may regard it as (semi-)private, whereas journalists may regard it as public. (Whittle S dan Cooper, 2009:2 dalam Trepte and Leonard (eds.), 2011: 205-218)

 Berkaitan dengan informasi pribadi yang dipublikasikan di media citizen journalism,  peneliti menggunakan tiga level informasi yang digunakan oleh  Rossler (2009: 79-142), yakni  Decisional Privacy, Local Privacy, dan  Information Privacy, untuk memberikan gambaran bagaimana level privasi atau pribadi ini dipublikasikan di media citizen journalism, berdasarkan obervasi terhadap media citizen journalism di Kompasiana.

  1. 1.       Local Privacy

Level ini didefinisikan Rossler sebagai “Aspects concerning privacy-related issues in terms of private” (2005:142), bahwa konten di media citizen journalism yang masuk dalam level ini adalah segala aspek yang bersifat pribadi di ranah lokal misalnya segala hal tentang cerita yang terjadi rumah, hubungan antara keluarga, kehidupan sehari-hari, hingga hubungan intim di antara pasangan.

  1. 2.       Decisional Privacy

Level ini diartikan sebagai ‘aspects concerning privacy-related issues in terms of actions and conduct’ (Rossler, 2005:79) bahwa konten yang dipublikasikan berkaitan dengan aktivitas atau kegiatan si pemilik akun dalam kehidupan sehari-hari yang bersentuhan dan atau berkaitan dengan individu/komunitas lain.

  1. 3.       Information Privacy

Level ini memiliki batasan yang berbeda dengan dua level sebelumnya, yakni merupakan pusat dari hal-hal yang bersifat pribadi dan hanya bisa diakses (dipublikasikan) oleh pribadi yang bersangkutan.

The situation is different when it comes to informational privacy, which represents the central dimension of privacy for a lot of theorists as it refers to the control over (the access to) personal information (see Sect. 15.1). As a consequence, this dimension is located on a different level of abstraction than the other two dimensions. Informational privacy is less specific than local and decisional privacy and may include information referring to the other dimensions as well.(W. Loosen dalam Trepte and Leonard (eds.), 2011:214)

 

Di level informasi pribadi ini sifat konten yang dipublikasikan lebih pada sesuatu yang berasal dari diri pemilik akun itu sendiri. Bermakna bahwa informasi tersebut hanya bisa dibuka oleh pribadi yang bersangkutan; meski dalam beberapa kondisi level ini masih sulit dibedakan dengan dua level sebelumnya dan bisa jadi apa yang dikatakan sebagai level isu local juga masuk dalam level isu informational.

Tiga level atau dimensi sebagaimana dicontohkan di atas menunjukkan bahwa selain informasi yang bersifat publik seperti laporan tentang pameran, kecelakaan, dan sebagainya media citizen journalism juga memberikan ruang untuk memublikasikan konten seputar ranah pribadi. Inilah yang peneliti katakan di bagian awal subbab ini dengan media citizen journalism memberikan peluang bagi khalayak untuk menjadi konsumen sekaligus produsen berita.

Publik dalam hal ini telah mentransformasikan dirinya tidak lagi sebagai audiences yang pasif dalam menerima terpaan informasi (berita) yang diproduksi oleh media tradisional. Melalui media internet, publik bisa sekaligus menjadi produsen yang mempertukarkan informasi di antara mereka secara cepat terhadap sebuah peristiwa. Bahkan jika melihat jumlah pengguna internet, kemajuan teknologi seperti telepon genggam yang dilengkapi dengan perangkat perekam gambar atau suara, dan layanan provider jaringan telepon yang langsung mengkoneksi perangkat teknologi telepon genggam ke internet memungkinkan sebuah peristiwa bisa dilaporkan secara langsung dan lebih dahulu dari liputan jurnalis yang bekerja di media tradisional tertentu.

Selain itu, karakteristik nilai berita juga tidak lagi berada di luar diri produsen berita dalam hal ini jurnalis. Dalam fenomena citizen journalism berita bisa berasa dari dalam diri khalayak itu sendiri; mengenai hal-hal yang bersifat pribadi dari khalayak yang dalam banyak keadaan dan kondisi tertentu malah meruntuhkan kriteria atau nilai berita yang selama ini dianut oleh media massa. Bahkan, sebagaimana dijelaskan Steve Outing (2005), bahwa konten dalam citizen journalism juga tidak berhenti pada konten itu sendiri, melainkan berkembang karena salah satu ciri dari media online adalah adanya fasilitas komentar yang memberikan ruang pada pembaca untuk memasukkan opini, kritikan, atau bahkan menambahkan informasi dari peristiwa yang dilaporkan.

At its simplest level, user comments offer the opportunity for readers to react to, criticize, praise or add to what’s published by professional journalists. If you look at news Web sites that allow user comments (and at this writing, it’s still a small minority of all news sites), you’ll see a mix of user reactions within article comments. But almost universally, you’ll see occasional reader comments that add to what’s published. Readers routinely use such comments to bring up some point that was missed by the writer, or add new information that the reporter didn’t know about. Such readers can make the original story better. (http://www.poynter.org/uncategorized/69328/the-11-layers-of-citizen-journalism/ diakses pada 27 Desember 2011)

Kondisi ini, membawa perubahan bagi media dan jurnalisme itu sendiri. Internet telah mengubah bagaimana berita itu diproduksi sekaligus dikonsumsi.

The Internet has become not only an alternative for news production and consumption (Mitchelstein and Boczkowski 2009), but has changed the conditions of (public) communication to a large extent. Journalism as a genuine media phenomenon is strongly affected by this change as the Internet is threatening the traditional basis, role, and funding of journalism. (Trepte and Leonard (eds.), 2011: 215)

 

Bahkan perubahan ini, menurut analisis peneliti, tidak hanya pada keterbukaan sumber dari informasi yang selama ini banyak didominasi oleh media tradisional, melainkan sudah membawa pada sebuah fenomena yakni konten, media, bahkan khalayak dalam media citizen journalism online bisa dikomodifikasi untuk keuntungan warga itu sendiri.

Kondisi self-commodity yang menjadikan diri warga itu sendiri sebagai sumber atau obyek dalam konten di media citizen journalism sangat berbeda dengan kriteria berita di perusahaan media tradisional. Jika melihat konten (berita) di media tradisional, maka konten yang disajikan pada dasarnya merupakan konten yang telah dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan apa yang disebut sebagai “keinginan pasar”. Artinya, media, dan wartawan yang bekerja di dalamnya, merupakan subyek yang mengkonstruksi realitas atau dengan kata lain media adalah agen konstruksi yang mendefinisikan realitas bukan cerminan dari realitas (mirror of reality). Berita di media bukanlah representasi dari realitas, melainkan hasil dari konstruksi kerja jurnalistik. Proses kerja jurnalis mulai dari penentuan pemilihan fakta, sumber, pemakaian kata, gambar/foto, sampai pada proses penyuntingan merupakan proses kerja bagaimana realitas itu dihadirkan kepada khalayak. Jurnalis adalah agen konstruksi yang tidak hanya menghadirkan realitas secara apa adanya, tetapi juga turut mendefinisikan realitas tersebut. Tentu saja dalam mengkonstruksi realitas ada interpretasi, perbedaan pemaknaan, hingga penekanan atau prioritas penyajian fakta yang dilakukan oleh redaksi (DeGeorge, 1991). Namun, proses konstruksi itu tidak hanya terjadi ketika suatu realitas sudah berada di meja redaksi dan siap diolah menjadi berita. Saat menentukan mana realitas yang dipilih dan layak untuk dilakukan peliputan pun sudah ada kriteria-kriteria yang menjadi pedoman bagi jurnalis, yaitu kriteria teknis dan kriteria yang berkaitan dengan kualitas atau bobot produk berita. Kriteria atau persyaratan teknis ini berkaitan dengan unsur-unsur peristiwa yang memiliki nilai berita (news value). Sementara unsur-unsur nilai berita dari peristiwa atau realitas itu adalah memiliki nilai penting (significance), kedekatan waktu (timeliness), peristiwa besar atau melibatkan tokoh besar (magnitude), ada kedekatan (proximity), ketenaran peristiwa dan sumber yang terlibat (prominence) dan unsur ketertarikan yang melibatkan sisi kemanusiaan (human interest). Semakin banyak unsur-unsur ini terdapat dalam suatu peristiwa, maka akan semakin tinggi pula nilai berita dan semakin penting pula untuk dipilih sebagai bahan informasi kepada publik. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit unsur-unsur yang ada, semakin kecil pula kemungkinan manajemen redaksional meloloskan suatu peristiwa dan menjadikannya berita.

  1. 4.       Kesimpulan

Berdasarkan asumsi dan temuan di lapangan, penulis membenturkan fenomena komodifikasi ini dengan menyandarkan tesis Jesse Hicks yang mengutip pernyataan Curt Chandler, dosen komunikasi dari Penn State University, tentang warga dan keterlibatannya dalam media citizen journalism. Tesis mereka menyatakan bahwa maraknya warga yang berpartisipasi dalam melaporkan peristiwa di citizen journalism dikarenakan ada ketertarikan mereka terhadap sebuah peristiwa dan juga kontribusi yang diberikan semata-mata hanya untuk menyebarkan informasi tanpa ada motif ekonomi maupun politik di baliknya, sebagaimana berikut ini:

“Citizen-journalists are regular people who contribute to news reporting, not for monetary reward, but because they have a particular interest in a topic,” said Curt Chandler, senior lecturer in communications at Penn State. Chandler teaches future journalists how to adapt to a changing media environment, where the audience doesn’t just read the news, but helps make it. (dalam Jesse Hicks, 2008)

Peluang komodifikasi oleh warga dalam media citizen journalism jelas mempertanyakan tesis Jesse Hicks dan Curt Chandler tersebut. Pertama, tentang jurnalis warga yang merupakan orang biasa atau regular people ternyata dalam media citizen journalism bisa dimanfaatkan oleh warga demi kepentingan pribadi.

Selanjutnya, komodifikasi terhadap media citizen journalism yang dilakukan oleh warga merupakan fenomena tandingan komodifikasi yang dilakukan oleh perusahaan media tradisional. Ini menunjukkan gejala adanya tarik-menarik dalam ruang (pasar) citizen journalism. Bahwa tidak selamanya warga bersikap pasif terhadap terpaan media dan dijadikan komoditas oleh perusahaan media tradisional maupun pengiklan, melainkan warga juga bisa melakukan komodifikasi sesuai dengan capaian apa yang ingin diraih oleh mereka.

 

 

Daftar Pustaka

Albarran, Alan B. 1996. Media Economics. Iowa: Iowa State University Press

Albarran, Alan B, Chan-Olmsted, Sylvia, and Wirth, Michael O. (ed.). 2006. Handbook of Media Management and Economics. London: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers

Atton, Chris. 2009. Alternative and Citizen Journalism dalam  Karin Wahl-Jorgensen and  Thomas Hanitzsch (ed.), The Handbook of Journalism Studies. New York: Routledge

Allan, Stuart. News Culture. New York: Open University Press

Allan, Stuart and Thorsen, Einar (ed.). 2009. Citizen Journalism, A Global Perspectives. New York: Peter Lang

Barlow, Aaron. 2007. The Rise of The Blogosphere. London: Praeger

Bell, David. 2001. An Introduction to Cybercultures. London and New York: Routledge

Berger, Peter L. dan Thomas Luckman. 1967. The Social Construction of Reality, A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York: Anchor Books

Bruns, Axel. 2010a.  News Produsage in a Pro-Am Mediasphere: Why Citizen Journalism Matters dalam Graham Meikle and Guy Redden. News Online: Transformations and Continuities. London: Palgrave Macmillan

Bruns, Axel. 2010b.  From Reader to Writer: Citizen Journalism as News Produsage dalam Jeremy Hunsinger, Lisbeth Klastrup, and Matthew Allen. Internet Research Handbook. Dordrecht, NL: Springer. h.119-134.

Bruns, Axel. 2008a. News Blogs and Citizen Journalism dalam Kiran Prasad (ed.). e-Journalism: New Directions in Electronic News Media. New Delhi: BR Publishing

Bruns, Axel. 2008b. Gatewatching, Gatecrashing: Futures for Tactical News Media dalam Megan Boler (ed.). Digital Media and Democracy: Tactics in Hard Times. Cambridge, Mass.: MIT P

Bruns, Axel. 2005. Gatewatching: Collaborative Online News Production. New York: Peter Lang

Dahlgren, Peter and Sparks, Colin. 1999. Communication and Citizenship: Journalism and the Public Sphere. London and New York: Routledge

Fenton, Natalie (ed). 2010. New Media, Old News: Journalism and Democracy in The Digital Age, Los Angeles: SAGE Publications

Friedland, Lewis and Nakho Kim. 2009. Citizen Journalis dalam Christopher H. Sterling (ed.). Encyclopedia of Journalism. California: Sage Publications, Inc.

Gans, Herbert J., Multiperspectival News, dalam Elliot D. Cohen (ed.). 1992. Philosophical Issues in Journalism, New York: Oxford University Press

Gillmor, Dan. 2004. We The Media. California: O’Reilly Media, Inc

Gunter, Barrie. 2003. News and the Net. Mahwah, New Jersey, Lawrence Erlbaum Associates

Hall, Stuart dan Einar Thorsen (ed.). 2009. Citizen Journalism, Global Perspectives. Mew York: Peter Lang

Hass, Tanni. 2009. Civic Journalism dalam Christopher H. Sterling (ed.). Encyclopedia of Journalism. California: Sage Publications, Inc.

Holmes, David. 2005. Communication Theory: Media, Technology and Society. London, Thousand Oaks, New Dehli: SAGE Publications

Jordan, Tim. 1999. Cyberpower: The Culture and Politics of Cyberspace and The Internet. London and New York: Routledge

Kovach, Bill and Rosenstiel, Tom. 2001. The Elements of Journalism. New York: Three Rivers Press

Laswell, Harold D. 1972. Politics: Who Gets What, When, How, New York: The World Publishing Company

Levy, P. 2001. Cyberculture. Minnesota: University of Minnesota Press

Lichy, Patrice. 2007. The Internet Imagenary. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press

Merril, John C. et.all. 2001. Twilight of Press Freedom, The Rise of People’s Journalism. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates

Miller, Charles (ed.). 2009. The Future of Journalism. London: BBC College of Journalism

Miller, Daniel and Don Slater. 2000.  The Internet an Ethnographic Approach. New York: Berg

McNamus, John H. 1994. Market Driven Journalism: Let The Citizen Beware?.California: Sage Publication

OECD. 2010. News in the Internet Age, New Trends in New Publishing. Paris: OECD Publishing

Palfrey, John and Urs Gasser. 2008. Born Digital, Understanding The First Generation of Digital Natives. New York: Basic Book

Perlmutter, David D. dan John Maxwell Hamilton (ed). 2007. From Pigeons to News Portals: Foreign Reporting and The Challenge of New Technology. Louisiana: Louisiana state University Press

Porter, D. (ed.) 1997. Internet Culture. London: Routledge.

Poster, M. 1995. The Second Media Age. Cambridge: Polity.

Rosenberry, Jack dan Burton St. John III (Ed.). 2010. Public Journalism 2.0, The Promise and Realty of a Citizen-engaged Press.  New York: Routledge

Schaffer, Jan. 2010. Civic and Citizen Journalism’s Distinction dalam Rosenberry, Jack and St.John III, Burton (ed.). Public Journalism 2.0, Rosenberry, Jack and St.John III, Burton (ed.). Public Journalism 2.0. New York: Routlegde

Schramm, Wilbur. 1960. Mass Communication, Urban: University of Illinois Press

Schutz, Alfred. 1970. On Phenomenology and Social Relations, Chicago: Chicago Press

Tuchman, G. 1978. Makin News: A Study in the Construction of Reality, New York: Free Press

Wayne, Mike. 2003. Marxis and Media Studies. London: Pluto Press

Wellman, Barry and Caroline Haythornthwaite. 2002. The Internet in Everyday Life. Malden: Balckwell Publishers

Young, Chang Woo. 2009. OhmyNews: Citizen Journalism in South Korea dalam Allan, Stuart and Thorsen, Einar (ed.). Citizen Journalism, A Global Perspectives. New York: Peter Lang

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>