W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

SPEECH CODES THEORY By Gerry Philipsen

Teori ini dilandaskan atas kajian etnografi atau kebudayaan. Dengan pola pikir yang dikembangan yaitu setiap komunitas memiliki ciri khas yang membedakannya dengan komunitas yang lain, salah satunya yaitu kode berbicara dalam proses komunikasi.

Sebuah penggambaran dua keluarga dari dua komunitas yang berbeda merupakan perumpamaan awal yang bisa mendapatkan pencitraan utuh tentang teori kode berbicara menurut Gerry Philipsen ini (p.448-449). Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih tiga tahun ini ia melibatkan dirinya pada komunitas pekerja di Chicago, Teamsterville. Hasilnya ia menemukan adanya kekhasan, dalam hal ini penggunaan dan pengucapan bahasa, yang digunakan oleh komunitas Teamsterville yang sangat berbeda sekali dengan kebiasaan umum yang dilabelinya dengan komunitas Nacirema.

Kode Berbicara
Philipsen mengemukakan lima proposisi yang dapat menjelaskan tentang teori ini, yaitu: kekhasan kode berbicara, substansi kode berbicara, interpretasi kode berbicara, pemetaan kode berbicara, serta kekuatan kode berbicara.

Dalah kekhasan kode berbicara Philipsen (p.450) menegaskan bahwa setiap budaya yang terbentuk, baik itu budaya yang ada di komunitas tertentu atau lokal maupun komunitas umum, memiliki kode berbicara tertentu. “Wherever there is a distinctive culture, there is to be found a distinctive speech code.”

Ketika memasuki komunitas kalangan pekerja Teamsterville, Philipsen menemukan adanya kosakata, ungkapan maupun tata bahasa yang sangat sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini dipahaminya bahkan kebiasaan yang berlaku umum. Salah satunya adalah kebiasaan penduduk di Teamsterville untuk tidak memulai sebuah percakapan tanpa terlebih dahulu memastikan status dari lawan bicaranya. Mereka harus meyakini bahwa atau setidaknya mengetahui latar belakang lawan bicaranya, dari etnis apa, status sosialnya hingga tempat tinggalnya. Bahkan sebuah ungkapan yang umum akan dilontarkan oleh komunitas di Teamsterville adalah, “Where are you from and whats your nationality?”

Hal yang sama sekali berbeda-untuk tidak mengatakan bertolak belakang- ditemukan pada komunitas Nacirema. Philipsen menjelaskan perbedaan ini pada kebiasaan saat sebuah keluarga dari dua komunitas tersebut saat melakukan makan malam keluarga.

Sementara dalam substansi kode berbicara (p.450-451) Philipsen menekankan adanya pengaruh psikologi, sosial maupun retorika yang membangun kode berbicara itu. “A speech code involves a culturally distinctive psychology, sociology, and rhetoric.”
Hal ini dapat dijelaskan bahwa prilaku individu dalam komunitas Teamsterville dibentuk secara unik oleh kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam komunitas tersebut. Gambaran pribadi yang ‘sempurna’ bagi komunitas Teamsterville apabila ia mematuhi/mengikuti aturan-aturan yang berlaku di komunitas ini. Ada pembagian kelas yang sangat mencolok di komunitas ini.

Sementara bagi komunitas Nacirema individu memiliki kebiasaan yang unik dan berbeda dari individu lainnya. Meski secara umum ada aturan-aturan sosial yang berlaku, akan tetapi individu berkembang sesuai dengan caranya tersendiri. Individu dinilai tidak dari penampakan luar semata melainkan dari apa yang terpancar dari dalam individu itu sendiri.

Philipsen mengintrepretasi kode berbicara sebagai satu kesatuan yang utuh (p.453). Artinya kode berbicara ini akan berlaku apabila ada kesamaan persepsi antara komunikan dan komunikator. “The significance of speaking depends on the speech codes used by speakers and listeners to create and interpret their communication.”

Kode berbicara ini akan muncul apabila ada interaksi yang sangat efektif antara komunikan dan komunikator. Artinya Philipsen menegaskan bahwa interpretasi dari kekhasan kode berbicara itu tergantung dari hubungan diantara dua individu atau lebih yang didukung dengan adanya kedekatan, keterbukaan dan dukungan pembicaraan. Dengan demikian kode berbicara akan berlaku ketika ‘apa yang akan disampaikan’ sudah dipahami oleh individu-individu yang saling berinteraksi tersebut; berasal dari lingkungan sosial maupun budaya yang sama.

Selanjutnya ketika berbicara tentang pemetaan kode berbicara, Philipsen (p.454) menggambarkan bahwa kode berbicara itu sendiri muncul dari pencitraan publik atau komunitas yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kode berbicara dengan pengertian lain dipetakan dalam pembicaraan itu sendiri. “The terms, rules, and premises of a speech code are inextricably woven into speaking itself.”

Pada proposisi selanjutnya Philipsen (p.455) menegaskan bahwa kode berbicara dengan segala yang dimaknainya dalam kondisi tertentu akan mampu memprediksi, memberikan gambaran, menjelaskan hingga mengontrol keadaan dari proses komunikasi. “The artful use a shared speech code is a sufficient condition for predicting, explaining, and controlling the form of discourse about the intelligibility, prudence, and morality of communication cfonduct.”

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kode berbicara yang ‘membudaya’ di antara komunitas Teamsterville dan Nacirema menekankan pada kejelasan, kepantasan, serta etika komunikasi individu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kritik Teori
Dari perumpamaan di atas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok antara keluarga di komunitas Teamsterville dan keluarga di komunitas Nacirema. Teamsterville merupakan penggambaran akan kolektifitas, hirarki, menjunjung tinggi kode kehormatan, dan dominasi atas kaum pria. Sementara pada Nacirema komunitas tersebut disimpulkan sebagai individual, egalitarian, bermartabat, dan didominasi oleh dunia perempuan.

Kritik yang dapat dilontarkan dalam kajian ini adalah meski Philipsen telah melakukan penelitian dengan waktu yang cukup lama dan dengan metode perpanjangan partisipasi , akan tetapi sangatlah kurang bijak apabila Philipsen menyimpulkan secara umum (generalisasi) dua hal tersebut sebagai dua perbedaan kebudayaan (p.457). Bahkan lebih jauh ia tidak memberikan suatu pemaknaan yang benar dan cenderung untuk menimbulkan keberpihakan. Konteks yang bisa mengambarkan ini adalah isu kolektifitas adalah lebih baik dibandingkan individual.

Juga, teori ini tampaknya mengabaikan kekuatan hubungan serta perbedaan gender. Meminimalisasi dan malah mengabaikan adanya fenomena ‘pemberontakan individu’ terhadap kode berbicara.

[Based on book written by EM Griffin, A First Look at Communication Theory, Fifth Edition, New York: McGraw-Hill, 2003 ] (2487)

One Response to SPEECH CODES THEORY By Gerry Philipsen

  1. aby

    kok artikelnya gak bisa d copy ya ?
    saya perlu utk materi presentasi kuliah, gimana cara copy-nya ya ?
    makasih

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


8 − = six

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>