Tag Archives: Andrew Wood

Virtual Self Performance, Sebuah Tinjauan

Bagi Erving Goofman dalam bukunya The Presentation of self in Everyday Life (1959/1990) bahwa setiap individu pada kenyataannya melakukan konstruksi atas diri mereka dengan cara menampilkan diri (self performance) yang dibentuk  oleh audiens atau lingkungan sosial dan bukan diciptakan oleh individu itu sendiri. Sehingga identitas yang muncul adalah penggambaran apa yang sebenarnya menjadi keinginan dan guna memenuhi kebutuhan sosial, ‘a performance can be defined as the sum of activity of a given participant which seeks to influence the audience in any way’ (15); meski dalam banyak hal ekspektasi yang datang dari lingkungan sosial atau ‘established social role’ seringkali berlawanan dengan kehendak pribadi (35). Bagi Goffman, “performance is not a spontaneous, immediate response that constitutes sole social reality. Performace can be stood back from to imagine or play with simultaneously other kinds of preformances of other realities” (207).

Dalam konteks budaya siber, tesis Goffman ini dikembangkan oleh Andrew Wood dan Matthew Smith (2005) yang juga membahas bagaimana identitas tersebut berlaku di internet. Wood dan Smith menyatakan bahwa  identitas adalah ‘a complex personal and social construct, consisting in part of who we think ourselves to be, how we wish others to perceive us, and how they actually perceive us’ (52). Bahkan penggambaran diri atau self-performance merupakan upaya individu untuk mengkonstruk dirinya—dalam konteks online melalui foto atau tulisan—sehingga lingkungan sosial mau menerima keberadaan dan memiliki persepsi yang sama dengan individu tersebut. Di internet pada dasarnya komunikasi dan atau interaksi yang terjadi memakai medium teks, secara langsung hal ini akan memengaruhi bagaimana seseorang mengkomunikasikan identitas dirinya di kehidupan virtual (virtual life) dan setiap teks menjadi semacam perwakilan dari setiap ikon diri dalam self-performance (56). Dalam interaksi face-to-face seseorang akan memahami gambaran identitas diri orang lain melalui gender, ras, pakaian, dan karakteristik  non-verbal lainnya. Namun, beberapa karakteristik ini sangat sulit muncul dalam interaksi virtual, teknologi internet menawarkan fasilitas untuk menyembunyikan bebepa petunjuk atau karakteristik ternetu yang tidak ingin ditampilkan dan diketahui oleh publik (57). Inilah yang dalam kosep Goffman mengumpamakan seuah panggung drama di mana ruang pertujukan tersebut selalu ada tempat apa yang dikatakan sebagai ‘front-stage’ dan ‘back-stage’. Di panggung belakanglah setiap pemain menyembunyikan atau memiliki identitas dirinya yang disebut sebagai ‘personal identity’, sementara yang ditampilkan di atas panggung adalah identitas sosial atau ‘social identity’;

Share