Tag Archives: EM Griffin

Social Judgement Theory

Teori ini dalam ilmu komunikasi lebih menekankan pada aspek kognitif dari penerimaan pesan yang disampaikan. Artinya teori ini menjelaskan dalam konteks persepsi yang mungkin muncul atau terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang menerima pesan. Persepsi itu selanjutnya memungkinkan si penerima pesan untuk mendistribusikan ke arah mana pesan itu akan ditempatkan; menerima atau menolak pesan maupun bersikap netral terhadapnya. “Social judgement theory says happen inour heads. We hear a message and immediately judge where it should be placed on the attitude scale in our mind.” (EM Griffin, 2003:187)

Secara umum persepsi yang muncul akibat penerimaan pesan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu latitude of acceptance, latitude of rejection dan latitude of non-commitment.

Untuk menjelaskan lebih jauh tentang tingkat konsep persepsi pesan ini, Muzafer Sherif (p.186) mengemukakan 11 pernyataan yang diambil dari Jim, anak lelakinya yang berprofesi sebagai pilot, berkaitan dengan tidak amannya suatu penerbangan sejak tragedi 11 September. Dari hasil pertanyaan tersebut Sherif menjabarkannya menjadi;

Share

SPEECH CODES THEORY By Gerry Philipsen

Teori ini dilandaskan atas kajian etnografi atau kebudayaan. Dengan pola pikir yang dikembangan yaitu setiap komunitas memiliki ciri khas yang membedakannya dengan komunitas yang lain, salah satunya yaitu kode berbicara dalam proses komunikasi.

Sebuah penggambaran dua keluarga dari dua komunitas yang berbeda merupakan perumpamaan awal yang bisa mendapatkan pencitraan utuh tentang teori kode berbicara menurut Gerry Philipsen ini (p.448-449). Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih tiga tahun ini ia melibatkan dirinya pada komunitas pekerja di Chicago, Teamsterville. Hasilnya ia menemukan adanya kekhasan, dalam hal ini penggunaan dan pengucapan bahasa, yang digunakan oleh komunitas Teamsterville yang sangat berbeda sekali dengan kebiasaan umum yang dilabelinya dengan komunitas Nacirema.

Kode Berbicara
Philipsen mengemukakan lima proposisi yang dapat menjelaskan tentang teori ini, yaitu: kekhasan kode berbicara, substansi kode berbicara, interpretasi kode berbicara, pemetaan kode berbicara, serta kekuatan kode berbicara.

Dalah kekhasan kode berbicara Philipsen (p.450) menegaskan bahwa setiap budaya yang terbentuk, baik itu budaya yang ada di komunitas tertentu atau lokal maupun komunitas umum, memiliki kode berbicara tertentu. “Wherever there is a distinctive culture, there is to be found a distinctive speech code.”

Share