Tag Archives: Jean Baudrillard

Konsep Jean Baudrillard tentang Cyberculture

Jean Baudrillard adalah salah satu pemikir kunci yang terkait dengan postmodernitas di yahun 1970-an dengan gagasan gagasan simulasi –  suatu efek dimana masyarakat semakin berkurang tingkat kesadaran mereka terhadap apa yang ‘real’ karena imaji yang disajikan oleh media. Bahwa setiap individu pada akhirnya akan termediasi, disebut Baudrillard sebagai ‘ecstasy of communication, karena ‘hidup’ di dalam layar komputer dan atau bahkan menjadi bagian daripadanya. Menjalani hidup dalam kunkungan ‘hyperreality’ yang menempatkan individu antara yang nyata dan virtual, realitas dan ilusi.

Menggunakan pendekatan semiotika tentang hubungan antara tanda dan apa yang diwakili oleh tanda tersebut, Baudrillard menyatakan bahwa tanda-tanda telah terputus dari realitas; tidak sekadar merepresentasi, melainkan mensimulasi. Term yang digunakan adalah ‘simulacra’ yang diartikan sebagai ‘a copy of a copy with no original’ (Bell, 2001:76) yang dicontohkan dengan taman bermain Disneyland. Term ini terjadi melalui empat tahap proses: pertama, tanda (sign) merupakan presentasi realitas; kedua, tanda mendistorsi realitas; ketiga, bahwa realitas semakin kabur bahkan hilang, malah tanda merupakan representasi dari  representasi itu sendiri; dan keempat, bahwa tanda bukan lagi berhubungan dengan realitas—imaji telah menjadi pengganti dari realitas itu sendiri.

Inilah yang menurut Bell terjadi dalam cyberspace dimana proses simulasi itu terjadi dan perkembangan teknologi komunikasi serta kemunculan media baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas,  menciptakan sebuah dunia baru yaitu dunia virtual.

Sumber : Bell, David. 2001. An Introduction to Cybercultures,London and New York: Routledge

Share

Beberapa Penelitian Identitas Virtual

Penggambaran diri dan identitas diri di dunia siber merupakan salah satu fenomena yang terjadi dalam hubungan interpersonal yang pada awalnya banyak diungkap oleh kajian-kajian di bidang komunikasi, sosiologi, antropologi, hingga psikologi. Marshal Mc Luhan, Wilbur Schramm, Stuart Hall, George Herbert Mead,  Michel Foucault,  Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Jean Baudrillard, Paul Virilio, dan sebagainya merupakan sebagian figur-figur yang memberikan dasar untuk mendekati fenomena yang terjadi di dunis siber.

Ide Foucault, sebagai misal, tentang wacana yang tergantung pada bagaimana masyarakat mendefenisikan sebuah peristiwa. Definisi perbuatan kriminal merupakan wacana yang dikembangkan sendiri oleh komunitas tersebut termasuk di dalamnya bagaimana hukuman yang akan dijatuhkan terhadap perbuata tersebut. Mengutip buku karya Foucault tentang Discipline and Punish (1979), bahwa penjara yang berisi para kriminal dan bagaimana disiplin diterapkan di dalamnya. Di dalam penjara tersebut ada pengawas yang pada dasarnya tidak pernah secara menyeluruh diketahui oleh tahanann apakah mereka sedang diawasi dan bagaimana mereka diatur sesuai dengan term disiplin, dalam kasus ini terjadi di penjara pada akhir abad ke delapan belas di mana sel-sel tersebut diatur di sekitar menara centralguard, berkerumun menurut ‘kelas’ kriminal (semua pembunuh bersama-sama, semua pencuri bersama-sama). Pencahayaan di dalam sel berarti bahwa para tahanan  tidak bisa melihat ke dalam menara, tapi para penjaga dapat melihat ke dalam sel. Dalam hal ini cara, para tahanan tak pernah bisa tahu apakah mereka sedang diawasi oleh para penjaga (Atau jika, pada kenyataannya, ada ada penjaga di menara sama sekali), melainkan mereka harus memantau perilaku mereka sendiri, kalau-kalau mereka sedang diawasi – jadi disiplin menjadi terinternalisasi.

Share