Tag Archives: Stuart Hall

Beberapa Penelitian Identitas Virtual

Penggambaran diri dan identitas diri di dunia siber merupakan salah satu fenomena yang terjadi dalam hubungan interpersonal yang pada awalnya banyak diungkap oleh kajian-kajian di bidang komunikasi, sosiologi, antropologi, hingga psikologi. Marshal Mc Luhan, Wilbur Schramm, Stuart Hall, George Herbert Mead,  Michel Foucault,  Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Jean Baudrillard, Paul Virilio, dan sebagainya merupakan sebagian figur-figur yang memberikan dasar untuk mendekati fenomena yang terjadi di dunis siber.

Ide Foucault, sebagai misal, tentang wacana yang tergantung pada bagaimana masyarakat mendefenisikan sebuah peristiwa. Definisi perbuatan kriminal merupakan wacana yang dikembangkan sendiri oleh komunitas tersebut termasuk di dalamnya bagaimana hukuman yang akan dijatuhkan terhadap perbuata tersebut. Mengutip buku karya Foucault tentang Discipline and Punish (1979), bahwa penjara yang berisi para kriminal dan bagaimana disiplin diterapkan di dalamnya. Di dalam penjara tersebut ada pengawas yang pada dasarnya tidak pernah secara menyeluruh diketahui oleh tahanann apakah mereka sedang diawasi dan bagaimana mereka diatur sesuai dengan term disiplin, dalam kasus ini terjadi di penjara pada akhir abad ke delapan belas di mana sel-sel tersebut diatur di sekitar menara centralguard, berkerumun menurut ‘kelas’ kriminal (semua pembunuh bersama-sama, semua pencuri bersama-sama). Pencahayaan di dalam sel berarti bahwa para tahanan  tidak bisa melihat ke dalam menara, tapi para penjaga dapat melihat ke dalam sel. Dalam hal ini cara, para tahanan tak pernah bisa tahu apakah mereka sedang diawasi oleh para penjaga (Atau jika, pada kenyataannya, ada ada penjaga di menara sama sekali), melainkan mereka harus memantau perilaku mereka sendiri, kalau-kalau mereka sedang diawasi – jadi disiplin menjadi terinternalisasi.

Share

Tiga Subyek Stuart Hall

Stuart Hall dalam The Question of Cultural Identity (1996:596-636) menegaskan bahwa perkembangan era modern kini teleh membawa perkembangan baru dan mentranformasikan bentuk-bentuk individualism; sebagai ‘tempat’ di mana konsepsi baru mengenai subyek individu dan bagaimana identitas itu bekerja. Ada transformasi yang terjadi dalam individu modern dimana mereka mencoba untuk melepaskan diri dari tradisi maupun struktur (sosial) yang selama ini dianggap membelenggu. Bukan berarti bahwa masyarakat yang hidup pada masa pra-modern tidak individualis, melainkan term ini memiliki ‘kehidupan’, ‘pengalaman’, dan ‘konsep’ yang berbeda sesuai dengan masanya. Salah satu ciri modernitas yang diduga kuat merubah tatanan sosial yang ada menurut Hall adalah penemuan dan perkembangan mesin. Dari pembahasan ini, Stuart Hall ingin menempatkan identitas menurut beberapa teori sebagai  the Enlightenment ‘subject’, identitas yang stabil dan final, sebagai de-centred sampai kepada identitas yang terbuka, kontradiksi, tidak selesai, identitas terfragmentasi dari subjek postmodernisme. Bagi Hall dalam Identity: Community, Culture, Difference (1990), “..There are two kinds of identity, identity as being (which offers a sense of unity and commonality) and identity as becoming (or a process of identification, which shows the discontinuity in our identity formation)”.

Share