Tag Archives: Tim Jordan
Kebudayaan dan Komunitas Virtual
Kebudayaan memiliki hubungan yang signifikan dengan komunitas. Menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat (komunitas) ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Akan halnya kebudayaan yang ada di internet, ruang individu yang dikonstruk oleh setiap user dalam interaksi di internet, misalnya dalam newsgroup, memiliki aturan, ciri khas, bahkan hirarki yang tidak jauh berbeda dengan dunia nyata. Meski konstruksi relasi sosial yang dibangun diwakili oleh teks maupun avatar, namun setiap individu memiliki kesadaran kolektifitas dalam lingkungan sosial tersebut sekaligus hak untuk menyatakan pendapat, pikiran, maupun opini mereka terhadap individu lain.
Komunitas Virtual dan Lahirnya Cyberculture
Berkaitan dengan kehidupan sosial, ada banyak definisi yang menjelaskan tentang arti komunitas. Tetapi setidaknya definisi komunitas dapat didekati melalui; pertama, terbentuk dari sekelompok orang; kedua, saling berinteraksi secara sosial di antara anggota kelompok itu; ketiga, berdasarkan adanya kesamaan kebutuhan atau tujuan dalam diri mereka atau di antara anggota kelompok yang lain; keempat, adanya wilayah-wilayah individu yang terbuka untuk anggota kelompok yang lain, misalnya waktu (Hillery, 1955).
Wacana Identitas di Facebook
Kehadiran Facebook merupakan salah satu medium dalam budaya siber yang memediasi interaksi antarsubyek di ruang virtual. Dalam kupasan yang dipaparkan David Bells di awal tulisan ini bahwa komunikasi termediasi komputer bisa didekati dalam dimensi pengalaman.
Perangkat Facebook yang dilahirkan oleh Mark Zurkenberg memberikan perangkat untuk membangun subyek. Setiap pengguna dan atau pemilik akun di Facebook disediakan form atau borang untuk menuliskan profil diri mereka seperti nama, nama kecil, tempat tanggal lahir, pendidikan, hobi, sampai pada kutipan yang disenangi olehnya. Fasilitas Facebook tersebut memungkinkan seseorang mengkonstruk dirinya melalui perantaraan teks baik itu dalam pengertian kumpulan kata maupun gambar yang pada akhinya memberikan kepingan-kepingan gambar bagaimana subyek pemilik akun Facebook itu (gambar 1); pada praktiknya ruang konstruksi identitas ini bisa bersifat opt in (hanya dibaca oleh pemilik akun itu sendiri, sebagian teman dalam jaringan Facebook, atau teman dari teman dalam jaringan Facebook) atau opt out (yang bisa dibaca oleh siapapun juga). Meski Facebook memiliki kuasa untuk mengarahkan bagaimana informasi apa saja yang harus disampaikan oleh subyek tersebut, namun pilihan untuk memberikan informasi tersebut tetap kembali kepada kesadaran pengetahuan dari pengguna facebook tersebut.








