Tag Archives: Wilbur Schramm

Di Balik Berita

Ada satu pola yang sangat berpengaruh pada ruang redaksi baik itu media cetak, elektronika maupun interaktif online bahwa menjual berita merupakan industri yang sangat menguntungkan. Pembaca kini adalah pelanggan, berita adalah produk sementara sirkulasi atau signal area merupakan pasar dalam dunia industri jurnalisme. Hal demikian jelas secara perhitungan bisnis membawa sebuah pamahaman bahwa redaksi pemberitaan dan jurnalisme diarahkan untuk memenuhi keinginan pasar. Pertanyaan yang muncul adalah apakah berita yang dihasilkan tersebut benar-benar menyampaikan informasi yang menggambarkan sebuah peristiwa secara utuh dan seimbang? Atau, berita hanyalah benar-benar produk industri yang pada akhirnya akan kehilangan nilai informasi itu sendiri karena memenuhi selera pasar?

Pandangan Carl Bernstein, salah satu reporter pengungkap kasus Watergate, menyatakan bahwa orientasi bisnis yang dilakukan oleh jurnalisme saat ini telah membentuk sebuah “indiot culture” :

For more than 15 years we hane been moving away from real journalism towardthe creation of sleazoid info-tainment culture in which the lines between Oprah [Winfrey] sn Phil [Donohue] and Geraldo [Rivera] and Diane [Sawyer] and even Ted [Kopel] , between New York Post and Newsday, are too often indistinguishable. In this culture of journalistic titillation, we teach our readers and our viewers that trivial is significant, that the lurid and loopy are more important than real news. (p.1)

Share

Beberapa Penelitian Identitas Virtual

Penggambaran diri dan identitas diri di dunia siber merupakan salah satu fenomena yang terjadi dalam hubungan interpersonal yang pada awalnya banyak diungkap oleh kajian-kajian di bidang komunikasi, sosiologi, antropologi, hingga psikologi. Marshal Mc Luhan, Wilbur Schramm, Stuart Hall, George Herbert Mead,  Michel Foucault,  Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Jean Baudrillard, Paul Virilio, dan sebagainya merupakan sebagian figur-figur yang memberikan dasar untuk mendekati fenomena yang terjadi di dunis siber.

Ide Foucault, sebagai misal, tentang wacana yang tergantung pada bagaimana masyarakat mendefenisikan sebuah peristiwa. Definisi perbuatan kriminal merupakan wacana yang dikembangkan sendiri oleh komunitas tersebut termasuk di dalamnya bagaimana hukuman yang akan dijatuhkan terhadap perbuata tersebut. Mengutip buku karya Foucault tentang Discipline and Punish (1979), bahwa penjara yang berisi para kriminal dan bagaimana disiplin diterapkan di dalamnya. Di dalam penjara tersebut ada pengawas yang pada dasarnya tidak pernah secara menyeluruh diketahui oleh tahanann apakah mereka sedang diawasi dan bagaimana mereka diatur sesuai dengan term disiplin, dalam kasus ini terjadi di penjara pada akhir abad ke delapan belas di mana sel-sel tersebut diatur di sekitar menara centralguard, berkerumun menurut ‘kelas’ kriminal (semua pembunuh bersama-sama, semua pencuri bersama-sama). Pencahayaan di dalam sel berarti bahwa para tahanan  tidak bisa melihat ke dalam menara, tapi para penjaga dapat melihat ke dalam sel. Dalam hal ini cara, para tahanan tak pernah bisa tahu apakah mereka sedang diawasi oleh para penjaga (Atau jika, pada kenyataannya, ada ada penjaga di menara sama sekali), melainkan mereka harus memantau perilaku mereka sendiri, kalau-kalau mereka sedang diawasi – jadi disiplin menjadi terinternalisasi.

Share