W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Tiga Subyek Stuart Hall

Stuart HallBeberapa Penelitian Identitas Virtual. Read more ... » dalam The Question of Cultural Identity (1996:596-636) menegaskan bahwa perkembangan era modern kini teleh membawa perkembangan baru dan mentranformasikan bentuk-bentuk individualism; sebagai ‘tempat’ di mana konsepsi baru mengenai subyek individu dan bagaimana identitasPower/Knowledge on Facebook. Read more ... » itu bekerja. Ada transformasi yang terjadi dalam individu modern dimana mereka mencoba untuk melepaskan diri dari tradisi maupun struktur (sosial) yang selama ini dianggap membelenggu. Bukan berarti bahwa masyarakat yang hidup pada masa pra-modern tidak individualis, melainkan term ini memiliki ‘kehidupan’, ‘pengalaman’, dan ‘konsep’ yang berbeda sesuai dengan masanya. Salah satu ciri modernitas yang diduga kuat merubah tatanan sosial yang ada menurut Hall adalah penemuan dan perkembangan mesin. Dari pembahasan ini, Stuart Hall ingin menempatkan identitas menurut beberapa teori sebagai  the Enlightenment ‘subject’, identitas yang stabil dan final, sebagai de-centred sampai kepada identitas yang terbuka, kontradiksi, tidak selesai, identitas terfragmentasi dari subjek postmodernisme. Bagi Hall dalam Identity: Community, Culture, Difference (1990), “..There are two kinds of identity, identity as being (which offers a sense of unity and commonality) and identity as becoming (or a process of identification, which shows the discontinuity in our identity formation)”.

Identitas pada dasarnya dikaji Hall terbagi menjadi tiga konsep subyek yang berbeda, yakni (a) Enlightenment subject (b) sociological subject, dan (c) post-modern subject.

The Elighment Subject bahwa secara konsep manusia merupakan subyek yang terpusat, individu yang menyatu,  subyek secara fitrahnya mewarisi apa yang dikatakan sebagai beragam alasan (reason), kesadaran (consciouness), dan aksi (action) yang bagi Hall merupakan “whose ‘center’ consists of inner core which first emerged when the subject was born, and unfolded with it while remaining essentially the same—continuous or ‘identical’ with itself —  troughout the individual existence. Pusat dari segala hal yang esensial menyangkut diri inilah yang disebut sebagai ‘identitas’ seseorang. Bahwa pada dasarnya manusia memiliki segala ‘kemampuan’ untuk membebaskan diri dan menentukan bagaimana sesungguhnya eksistensi diri; sebagai diri yang mendapat pencerahan.

The Sociological Subject merupakan subyek (individu) yang dihasilkan dari relasi yang terjadi di wilayah sosial atau yang disebut Hall sebagai “significant others”. Identittas, dalam konsep ini, pada dasarnya menghubungkan apa yang disebut ‘yang di dalam’ sebagai  wilayah pribadi dan ‘yang di luar’ sebagai wilayah sosial.

The fact that we project ‘ourselves’ into these cultural identities, at the same time internalizing their meanings and values, making them ‘part of us’, helps to align our subjective feelings with the objective places we occupy in the social and cultural world. Identity thus stitches (or, to use a current medical metaphor, ‘sutures’) the subject into the structure. It stabilizes both subjects and the cultural worlds they inhabit, making both reciprocally more unified and predictable. (Hall,1996)

Subyek, yang sebelumnya memiliki identitas yang stabil dan menyatu selanjutnya akan terfragmentasi tidak hanya menjadi satu melainkan beberapa identitas; yang terkadang hal demikian menimbulkan kontradiksi atau identitas yang ‘unresolved identities’. Identitas pada akkhirnya, yang tersusun dari aspek ‘the social landscapes out there’ dan yang memberikan rasa kenyamanan secara subyektif melalui kebutuhan atau ‘need’ yang objektif yang berasal dari kultur, akan terpecah-pecah sebagai hasil dari perubahaan struktur dan institusional. Bahwa sesungguhnya proses dari identifikasi telah menjadi lebih terbuka, bervariasi, dan problematik.

The notion of the sociological subject reflected the growing complexity of the modern world and the awareness that this inner core of the subject was not autonomous and self-sufficient, but was formed in relation to ‘significant others’, who mediated to the subject the values, meanings and symbols — the culture — of the worlds he/she inhabited. (Hall,1996)

Stuart Hall juga mengambil contoh dari para pemikir seperti G.H. Mead, C.H. Cooley, dan para simbolik interaksionis lainnya yang dalam kajian ilmu sosial telah mengelaborasi konsep-konsep tentang identitas dan diri. Identitas terbentuk dari ‘interaksi’ yang terjadi antara diri dan (lingkungan) sosialnya; subyek pada dasarnya tetap memiliki sesuatu yang esensi dalam diri mereka yang disebut sebagai ‘the real me’, namun hal ini semakin terbentuk dan dimodifikasi karena ada proses dialogis yang secara terus-menerus dengan dunia kultural ‘yang di luar’ serta identitas yang ditawarkan kepadanya.

The post-modern subject bahwa identitas itu merupakan defenisi yang harus didekati melalui historis dan bukan dengan pendekatan ‘ilmu’ biologi. Subyek diasumsikan memiliki identitas yang berbeda dalam waktu yang berbeda; identitas bukanlah apa yang menyatu di dalam diri atau self itu sendiri; secara pemetaan kultural apa yang dinamakan kelas sosial, gender, seksualitas, etnisitas, ras, dan nasionalitas teleh memberikan kenyataan tempat-tempat yang tegas bagi individu-individu dalam kehidupan sosialnya sebenarnya dibedakan atas dasar segala sesuatu yang bersifat  discontinuity, fragmentation, dan dislocation. Bagi Hall identitas yang dimiliki oleh diri dan dibawa sejak dilahirkan sampai mati sebenarnya adalah konstruksi diri kita sendiri dengan konstruksi pemahaman yang memuaskan diri (construct a comforting story) atau ‘narrative of the self’ tentang diri kita sendiri.

Produksi dari subyek post-modern ini secara konseptual tidaklah pasti dan sudah jadi, esensial atau identitas yang telah permanen. Identity becomes a ‘moveable feast': formed and transformed continuously in relation to the ways we are represented or addressed in the cultural systems which surround us. Identitas yang menyatu, komplit, aman, dan koheren dianggap sebagai fantasi atau khayalan. Sebaliknya, sebagai seebuah sistem dari makna dan representasi kultural yang berlipat ganda bahwa diri pada kenyataannya dikonfrontasikan dengan identitas yang membingungkan; akibatdari kemunculan pilihan-pilihan identitas yang bisa dipakai dan bersifat temporal

Buku :
1. Stuart Hall et al. 1992. Modernity and Its Futures. London: Polity Press / The Open University,  p. 274-295.
2. Stuart Hall. 1996. “The Question of Cultural Identity”, in: Stuart Hall/David Held/Don Hubert/Kenneth Thompson, Modernity, Oxford: Blackwell, pp. 596-636.
3. Stuart Hall. 1990. Identity: Community, Culture, Difference. Ed. Jonathan Rutherford. London: Lawrence & Wishart (2200)

One Response to Tiga Subyek Stuart Hall

  1. Somebody essentially help to make severely articles I might state.

    This is the first time I frequented your web page and up to now?

    I surprised with the analysis you made to create
    this particular publish incredible. Excellent task!

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


nine − = 3

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>